Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2015

Seribu Burung Kertas

Diposting oleh Unknown di 03.06 1 komentar
Tak terasa genap sudah seribu kertas warna-warni yang telah ku bentuk menjadi seribu burung yang kelak akan mengepakan sayapnya dan berterbangan membawa berjuta mimpi dalam angan. Aku cukup terkesan dengan mereka yang tak pernah lelah mendampingi ku ketika jemari ini melekuk-lekukan kertas warna-warni itu, terutama kamu.

Dengan sabar ku lekuk satu per satu kertas persegi itu, dengan sangat lembut ku jadikan secarik kertas itu menjadi seekor burung pelangi, bahkan jemari ini tak kuasa berhenti untuk sekedar beristirahat dalam lelahnya. Sayang, seribu burung kertas ini ku persembahkan untukmu.

Malam makin larut saat mata ku semakin tersudut dalam lamun panjang bersama beberapa burung yang telah ku selesaikan, ku panjatkan doa sejenak di satu persatu burung yang ku simpan di sebuah kotak abu, bukan doa untukmu,maaf. Namun doa untuk kita.

Denting gerimis mulai menemani malam ku, secangkir susu coklat pun menjadi saksi, kali ini bukan secangkir kopi yang biasa kau cicipi, maaf. Aku tak menyukai kopi seperti mu, aku juga bukan penikmat ampas kopi yang kau seruput diakhir kenikmatan sebuah kopi sepertimu.

Seribu burung kertas ini kian lama kian bertambah, ku hitung satu per satu burung kertas yang ada di dalam kotak yang ku simpan rapi di lemari hijau ku. Oh sayang, ketahuilah didalam lekukan burung kertas ini tersimpan banyak doa kecil yang ku goreskan melalui tinta biru ku.

Semoga seribu burung kertas ini mampu mewakili berbagai doa dan harapan yang ku gantungkan tinggi diangkasa untuk ayah dan ibu ku, untuk keluarga ku, untuk sahabatku, untuk hidupku, dan untuk hidupmu, juga hidup kita.

Salam seribu angan,
Aku yang mengagumi mu.

Minggu, 28 Juni 2015

Rintih abu di antara kabut kelabu

Diposting oleh Unknown di 09.46 0 komentar
Kau tahu kini semua membisu
Membelenggu pada sebuah kain biru
Mungkin biru kini tak mampu lagi merayu
Atau sekedar menggebu diantara kelabu?

Wahai angin kau mampu membawa semua asa
Menembus dan membelah angkasa
Namun kini abu semakin menghilangkan rasa
Tanpa kata kau tak lagi membawa ku berdansa

Hingar- bingar ini seakan mengajak ku berlari
Menyelinap dalam kabut yang kau cari-cari
Ah, semua hanya membawa perih
Dalam sunyi ini aku merintih

*Sy.r

Senin, 04 Mei 2015

Berkata Tanpa Bicara

Diposting oleh Unknown di 18.58 0 komentar
Mungkin kebanyakan orang masih belum terlalu tahu tentang "Screenwriter", baik dalam teknik penulisan nya ataupun tentang profesi itu sendiri, dan kebanyakan orang masih sering bertanya-tanya "Apa sih untung nya dari menulis?".

Well.. Menulis itu memang gampang, namun gak semua orang bisa menuangkan apa yang ada di pemikirannya lewat sebuah tulisan. Dan gue akuin semua orang juga pasti bisa nulis, yang jadi pertanyaan.. "Apakah tulisan lo itu bisa berguna buat sekeliling lo?"



Nah.. kali ini gue mau sedikit berbagi tentang beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan "Menulis"

Writer. Alias Penulis. tentu sudah banyak masyarakat awam yang mengetahui soal pekerjaan ini. ya.. tugasnya adalah penulis. biasanya dia adalah penulis individual yang bekerja sendiri dan tidak bekerja dalam tim serta berhubungan langsung dengan klien yang menyewa jasanya (penerbitan, Production House, stasiun TV atau agency).
Istilahnya juga banyak ada Screenwriter (penulis skenario TV/film), Scriptwriter (Penulis skenario TV/Film/Teater), Copywriter (Sebutan untuk penulis naskah Radio, Iklan, atau text)
(Btw, ini salah satu pekerjaan gue yang berasal dari "Hobi" lho.. ya terlepas dari pekerjaan,Hobi yang tersalurkan itu adalah pekerjaan yang paling nyaman untuk gue..)

Co-Writer. Alias asisten penulis. orang ini biasanya bergabung pada sebuah tim penulis yang di kepalai oleh seorang Head-Writer.

Head-Writer. Biasanya dia mengepalai sebuah tim penulis dan bertanggungjawab penuh atas hasil tulisan tim tersebut. orang ini biasanya berhubungan langsung dengan klien yang menyewa jasanya dan timnya.

Ghost-Writer. Bukan Hantu penulis yaaaa.. tapi ini adalah penulis bayangan. Kenapa seperti itu? Ya karena orang ini di sewa keterampilan menulisnya, dengan perjanjian bahwa nama si penulis ini tidak di publikasikan atau si penulis tidak berhak mengakui karya itu sebagai karyanya.
Kalau mau contoh mudah, tahun ini sempat ramai diberitakan soal seorang penulis yang mengaku karyanya di bajak oleh seorang penulis/wartawan sebuah media ternama. Sebenarnya diperjanjian awal, penulis ini sudah setuju menjadi ghost-writer. tapi belakangan.. karena permintaan ibunya, berubah pikiran deh ..

Editor/Script-Editor. Orang ini bukanlah penulis. tapi dia adalah editor dari sebuah karya yang sudah di buat oleh penulis. Fungsi Editor ini adalah untuk membaca, menelaah, dan memastikan bahwa karya dari si penulis ini memang layak untuk di produksi / di cetak dan pastinya di lempar ke pasaran..

Ngomong-ngomong tentang editor, editor ini bukan tugas yang gampang. Dan gue-pun kadang "angkat tangan" kalau beberapa teman gue minta tolong ke gue untuk jadi Script-Editor. Tugas dari editor ini tidaklah mudah. Dia tidak hanya sekedar membaca, Tapi kemudian dia juga harus bisa mendeteksi masalah, lalu memberikan solusi konkrit atas masalah tersebut.


"When I was really young I didn't know that there was such a thing as a screenwriter. I wrote stories." -John Sayles-

Kutipan kalimat itu yang belakangan ini sering gue baca, untuk gue sendiri menulis udah jadi bagian dari hidup gue (lebay nih tapi seriusan), terlepas dariitu semua, gue emang cinta pake banget sama semua yang berbau "tulisan". Gue mulai nulis itu semenjak gue masih pakai seragam putih merah, gue udah mulai nulis-nulis cerita kecil dan pada "Zaman"nya itu di publish di majalah B*O*BO. Berlanjut ke Putih Biru, gue dipilih menjadi ketua ekstrakurikuler jurnalistik, gue akuin disini kemampuan gue untuk menulis makin di asah lagi. Hingga akhirnya saat gue jadi siswi Putih Abu-abu, gue dipercayai menjadi seorang Screenwriter untuk ekstrakurikuler sinematografi, (INI AWAL MULA MINDSET GUE KEBUKA UNTUK MAKIN MAKIN MAKIN MAKIN CINTA SAMA DUNIA MENULIS) aduh apa sih gue...


"Write every day, line by line, page by page, hour by hour. Do this despite fear. For above all else, beyond imagination and skill, what the world asks of you is courage, courage to risk rejection, ridicule and failure. As you follow the quest for stories told with meaning and beauty, study thoughtfully but write boldly. Then, like the hero of the fable, your dance will dazzle the world." -Robert McKee


Kamis, 24 Oktober 2013

Rasa

Diposting oleh Unknown di 23.32 0 komentar
Karena cinta menghadirkan rasa
Kicauan burung seakan membuatku menari, walau ku tahu hariini semua telah berbeda. Orang yang selalu menjadi alasan ku untuk tersenyum kini telah menghilang dari warna-warni kehidupanku. Aku layaknya seekor burung yang terpisah diantara ribuan burung lainnya, mencoba bertahan dalam ketidakpahaman dunia yang fana ini. Seakan tak bernyawa, aku memulai hidup ku tanpa kehangatan pelukan nya, senyumannya, dan tanpa suara nya yang selalu membuatku tersenyum saat aku tak menginginkan tersenyum sekalipun. Ternyata rasa adalah suatu hal yang membuatku seolah-oleh menjadi rintik hujan diantara matahari, membuatku seperti setangkai mawar yang mulai layu dan menghitam, menjadikan hatiku hancur hingga berkeping-keping tanpa penjelasan..
Hari pertama ku lalui tanpa semangat yang berarti, langkah kaki kecil ku pun seakan tak mampu lagi untuk berpijak. Langkah demi langkah ku jalani tanpa senyuman, walau mentari mengajak ku untuk menari namun aku tetap dengan paras wajah ku yang tak bertuan, oh Tuhan.. apa ini rasanya kehilangan?. “Ra.. Rara!!” suara itu terdengar jelas ditelinga ku, namun aku acuhkan. Aku benci suara itu. “Rara! Masih mau menghindar dari aku?” suara yang ku benci itu kian mendekat hingga aku merasakan sentuhan lembut tangannya menyentuh ku, aku berusaha untuk tidak melihatnya. Bahkan sekedar menoleh kehadapannya pun aku segan. “Maaf, aku tak bermaksud untuk menghindar. Aku butuh waktu untuk sendiri, mengertilah!” langkah ku semakin cepat meninggalkan dia dan menjauh darinya. sungguh teramat sungguh, aku tak mampu melihatnya dihadapanku begitu sesak dada ini melihatnya. Tanpa ku perdulikan lagi, aku pun membiarkan kaki ku mengajak untuk menjauhi nya walau ku tahu, keputusan yang telah ku ambil ini membuat dia kecewa, tapi.. sudahlah, aku yakin ini yang terbaik.  Hari demi hari semakin tak bergairah, aku mulai merasakan kejenuhan yang teramat mendalam dengan keadaan seperti ini, bagaimana tidak?.. Hari demi hari seakan begitu cepat, tanpa ku lalui lagi bersama orang itu. Walaupun ku tahu aku yang telah memutuskan untuk tak bersama nya lagi, namun kini aku menyadari bahwa aku merindukannya. Aku merindukan hadirnya, senyumnya, tawanya, candanya bahkan tangisan manja nya saat bersama ku dulu.
Malam menjadi lebih dingin semenjak hari itu, cuaca siang bahkan lebih panas dari biasanya, dan pagi semakin sunyi tanpa kicauan burung yang menemani. Ku hirup aroma kopi di cangkir merah jambu ku ini, diantara rintik hujan malam ini aku semakin merindukannya. Tiba-tiba handphone ku bergetar, ku lirik handphone ku dan ku dapati nama itu yang menghiasi layar handphone mungil berawarna merah ini. “Rara, aku merindukanmu.. aku butuh kamu disini, apa kamu juga merasakan apa yang ku rasakan? Bales dong, Ra. Sisihin waktu kamu sebentar buat bales sms aku ini. Aku sayang kamu.” Ingin sekali aku membalasnya, namun apa daya tangan tak sampai.. aku masih membisu membaca nya, “Aku juga merindukanmu, aku mencintaimu lebih dari yang kamu tau, Dam...” aku hanya mampu membalas pesan singkat nya dalam hati, berharap dia mampu mendengar apa yang ku ucapkan tadi. Tekad ku masih kuat, aku akan terus menjaga jarak dengan orang ini mungkin perlahan aku akan pergi dari kehidupannya. Puluhan pesan singkat datang dari nya tanpa satu balasan pun yang aku berikan, entahlah.. mungkin dia lebih kerasa dari batu karang hingga apapun yang ku lakukan padanya, dia tetap tak menghiraukannya dan tetap mencoba mendekatiku. Aku yakin dia masih menjadi salah satu orang yang dapat ku perjuangkan, tapi di balik itu semua aku masih menyimpan banyak rasa kecewa yang teramat mendalam padanya, aku ingin menghapusnya namun tetap tak bisa. Semua usaha yang dia tunjukan padaku tetap tak akan merubah keputusanku, aku menjahui nya.

“Apapun itu, setiap rasa yang menyakitkan, tak akan mampu membuat rasa yang menyenangkan seperti dulu..”

Sabtu, 20 Juli 2013

Berbeda.

Diposting oleh Unknown di 19.03 0 komentar
Awal bulan yang begitu aneh untuk Raya, seorang gadis teledor dengan segala keulahannya. Semua berawal dari awal Mei kemarin, saat semua siswa lalu lalang dengan rutinitas nya disekolah dan dengan kesibukan mereka masing-masing dengan pelajarannya, tetapi tidak untuk Raya. Gadis ini tetap santai melangkahkan kaki nya ke seluruh sudut ruangan disekolahnya. Dengan antusias nya ia mengawali hari demi hari disekolah yang menurut ia lebih menyenangkan dari keadaan dirumahnya. Ya terang saja, keadaan dirumah nya tidak begitu menyenangkan seperti keadaan diluar rumahnya, terlebih disekolah. Raya sering dikenal sebagai gadis periang dan selalu menebarkan senyumannya kepada siapapun yang bertemu dengannya, tidak heran bila ia di senangi oleh teman-temannya. “Ray! Gw pinjem buku catetan matematika lo yang kemarin dong..”  terdengar suara Sheka yang berteriak dari ujung koridor tepat saat Raya sedang berjalan-jalan kecil dengan tumpukan buku yang digenggam ditangan kanannya, “Eh Ka.. aduh gw enggak bawa buku nya nih, besok aja deh gw kasih ke lo ya bukunya hehe”. Jawab Raya singkat. Percakapan itupun berakhir begitu saja dikarenakan Raya yang terburu-buru berjalan menuju kelasnya.
Raya memang selalu melakukan hal yang sama setiap hari disekolah, mulai dari berjalan-jalan kecil mengelilingi koridor sekolah, hingga berjalan ditengah lapangan hingga membuat beberapa kakak kelas memperhatikannya dengan tatapan sinis. Kenapa sih kakak kelas itu selalu ngeliatin gw dengan pandangan yang seolah-olah mau makan gw hidup-hidup? Salah apa gw.. Pikir Raya saat sekilas melihat tatapan mata Kak Marko. Ya begitulah Marko, lelaki angkuh ini memang selalu tidak menyukai bila ada junior nya yang berjalan ditengah lapangan dengan mimik muka seakan tidak mempunyai salah apapun. Entah apa alasan Marko tidak menyukai junior nya yang melewati tengah lapangan itu, mungkin bagi Marko seorang junior harus bisa menghargai para senior dan tentunya tidak lancang melewati tengah lapangan yang notabene adalah kawasan para senior untuk mengumpul atau sekedar melakukan olahraga kecil disetiap waktu istirahat atau sepulang sekolah.
Langkah demi langkah dilewati oleh Raya, setapak demi setapak jalanan lapangan itu dilewati oleh Raya. Pagi ini ia memang sangat berbeda, senyuman nya sangat terlihat bahagia, lesung pipit di pipi nya menjadi lebih ceria dari sebelumnya. Seakan tidak memperdulikan tatapan para senior pada dirinya, ia tetap berjalan hingga akhirnya jalannya sedikit berubah menjadi berlari-lari kecil ditengah lapangan. Tanpa sadar ia menabrak salah satu senior nya, Buuuk.. “Woy kalau jalan tuh jangan pake kaki aja, mata juga digunain dong!”, Kata si senior dengan sinisnya. Aduh sial kenapa juga gw harus tabrakan sama cowok gak jelas ini, Ya Tuhan... Raya mengenali suara itu, benar saja.. Marko yang berdiri tepat dihadapan Raya langsung melontarkan argumen-argumen pedas nya pagi itu “Tolong ya adik kelas yang super duper menebar pesona pagi ini ditengah lapangan, kalau jalan tuh mata nya jangan ditinggal. Pernah diajarin cara berjalan yang baik dan benar kan?” “Maaf kak, saya salah tadi jalan terlalu terburu-buru jadi enggak sadar kalau udah nabrak kakak” Ujar Raya dengan menundukan kepalanya seolah takut dengan kakak senior nya ini.
Pagi ini sepertinya terlalu berbeda bagi Raya. Mulai dari berangkat sekolah ia diantar oleh Ayah nya yang biasanya selalu sibuk dengan segala pekerjaannya, lalu dengan keadaan meja makan pagi ini yang sudah tertata rapih dengan menu sarapan yang sengaja di buat oleh Ibu nya yang selama ini selalu berangkat pagi sekali walau hanya sekedar menghadiri meeting dikantornya, lalu... Sheka, teman kelasnya yang selama ini selalu menyindirnya ini itu didepan guru matematika tiba-tiba memanggilnya dan berniat meminjam buku catatan matematika Raya, setelah itu.. Marko.. Huaaa ada apa pagi ini? Aneh. Semuanya aneh.. mimpi apa gw semalem yampun..
Mei, bulan yang sebelumnya selalu dianggap Raya sama saja dengan bulan-bulan yang lain, namun entah mengapa Mei tahun ini mungkin terasa berbeda, semenjak lelaki itu hadir dikehidupannya, Arla. Entah dari mana datang nya makhluk ajaib ini dikehidupan Raya, semua mungkin terasa biasa saja sebelum akhirnya Raya mengenal Arla dari salah satu teman nya saat acara sekolah minggu lalu. Hari ini tambah lagi keanehan yang ditemui Raya, Arla dengan mimik muka cemas memperhatikan Raya yang semakin mendekati ruang kelasnya. “Ray, lo enggak kenapa-kenapa kan? Diapain lo sama si Marko?” . “Eh, Ar.. enggak gw gak diapa-apain kok, gw nya aja yang salah tadi nabrak dia yang segede papan tulis.. hehe, loh.. kok lo bisa tau? Pasti lo ngeliatin gw ya dari tadi? Hayo ngaku...” . Perbincangan singkat itu mulai berubah menjadi ajang saling ledek satu sama lain,
Entahlah.. semenjak mengenal Raya minggu lalu Arla menjadi merasa mengenal Raya lebih lama dari pertemuan pertamanya. Hari ke hari Arla selalu memperhatikan setiap tingkah laku Raya.. “Nih cewek yang waktu itu mau gw kenalin ke lo, Ar” ucap Rangga disela-sela acara sekolah malam itu “Hai.. Gw Arla, lo Raya anak IPA 1 kan?”.. “Wah.. ternyata lo tau gw kelas berapa.. hehe iya gw Raya, salam kenal deh ya”.. seperti itulah pertemuan Raya dan Arla untuk pertama kalinya, di acara sekolah minggu lalu. Raya yang mengenakan dress warna biru terlihat lebih cantik dengan kepangan yang menghiasi rambut hitam panjangnya.
Singkat, padat, dan berkesan.. itulah kesan pertama saat mengenal Raya, semakin membuat Arla merasakan hal yang tak biasa saat didekat Raya. Mungkin sama hal nya dengan Raya. Semenjak masa orientasi siswa awal pelajaran tahun lalu Raya memang sudah sering memperhatikan Arla, Arla adalah salah satu teman nya saat masa orientasi siswa tahun lalu. Tahun berganti tahun ternyata Arla dan Raya tidak ditakdirkan untuk mengenal lebih dekat. Hingga akhirnya saat acara minggu lalu mereka baru dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa mereka lupakan. Sejak malam itu kedekatan mereka berdua makin akrab, hanya sekedar menanyakan kabar Raya lewat pesan singkat bahkan Arla hanyak ingin sekedar mendengar suara Raya di ujung telepon setiap malam selalu dilakukan nya. Dunia Raya seakan penuh warna saat Arla datang di kehidupannya dengan membawa secerca harapan.mungkin hanya detak jam yang menjadi saksi Raya dan Arla setiap malam. Hidup mereka seakan berubah menjadi pelangi.
Semuanya beda, gw enggak pernah ngerasain hal ini sebelumnya.. saat dimana gw takut kehilangan seseorang yang jelas-jelas bukan milik gw. Takut kehilangan senyuman seseorang yang jelas-jelas enggak pernah gw kenal sebelumnya. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Semenjak kenal sama dia gw ngerasa hidup gw gak abu-abu lagi, gw ngerasa hidup gw penuh warna. Lebih dari pelangi sekalipun.
“Rayaa.. kemana aja sih lo dateng telat mulu! Pelajaran pertama matematika, hih lo mau dihukum beresin koridor siswa IPS lagi?..” tegur Arla saat melihat Raya berjalan memasuki kelasnya dengan memengang kepalanya dengan wajah pucat pasi. “Iyee.. apa sih, Ar.. jangn bawel deh! Gw itu telat bangun mangkanya baru dateng jam segini”.. “Lo sakit, Ray? Pucet banget muka lo kayak kambing belum dibedakin?”.... Raya tidak membalas ledekan Arla pagi itu, ia merasakan tubuhnya serasa lemah dan mata nya serasa berputar-putar. Melihat itu, Arla mendadak khawatir dengan Raya hingga akhirnya secara diam-diam ia mengikuti Raya kemanapun Raya pergi.
Bruuuk.. “Rayaaa!!!!”. Arla berlari dari ruang guru menuju toilet wanita di bawah tangga, ia mendapati Raya sedang tergeletak tak berdaya dengan keadaan tubuh yang menggigil namun demam tinggi. Segera Arla membawa Raya ke ruang UKS dan Raya beristirahat dengan ditemani oleh Arla. “Ar.. lo ngapain disini? Kok gw ada di UKS?” Kata Raya sambil memegangi kepalanya. “Akhirnya lo sadar juga.. lo tadi tuh pingsan di depan toilet, udah sarapan belum sih? Lo lagi sakit?”. Raya tidak menjawab pertanyaan Arla satupun, yang ia tahu kini ia merasa tubuhnya diantara es yang sangat dingin, menggigil.
Keesokan harinya, Raya memutuskan untuk memeriksakan kesehatannya kerumah sakit. “Hai Raya, sudah lama tidak bertemu ternyata kamu sudah bersar ya sekarang”.. ujar Dokter Bima, Dokter Bima adalah salah satu Dokter yang menangani keluarga Raya yang sedang sakit. “Ada apa, Ray? Tumben kamu kesini..” Lanjut Dokter Bima. “Hehe iya dong Raya kan udah remaja sekarang, bukan anak kecil lagi.. ini, Dok. Akhir-akhir ini Raya sering kecapekan, pusing tapi hanya dibagian kiri dan sering pingsan mendadak”.. “Wah, mungkin kamu kecapekan? Ayo kita periksa dulu”. Dokter Bima mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tas nya. ia memeriksa Raya dengan teliti dan Raya mengikuti semua penjelasan dari Dokter Bima. Tidak lama setelah itu, pemeriksaan Raya pun selesai, Dokter Bima mengambil kertas hasil pemeriksaan. “Hasilnya baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin kamu hanya kecapekan. Ini saya beri vitamin ya, namun hasil cek darah kamu baru bisa diambil mungkin 3 hari lagi..” “Oke Pak Dokter, semoga aja enggak ada apa-apa ya, kasih tau Raya kalau hasilnya udah bisa diambil ya.”
Sudah dua hari ini Raya tidak masuk sekolah. “Raya sakit, kemarin supir nya titipin surat izin ke gw nih” Ujar Sheka saat Arla menanyakan kabar Raya kepada Sheka. Hingga akhirnya sepulang sekolah Arla memutuskan untuk menjenguk Raya di rumahnya, benar saja.. Raya terlihat pucat dan sangat lemas berbaring ditempat tidur nya. melihat kedatangan Arla, Raya langsung memperlihatkan wajah yang ceria. “Aaaarr... akhirnya lo kangen gw juga, hahaha dateng juga kan lo jenguk gw.”.. “Aduh yampun pede banget lo, siapa juga yang kangen.. gw cuma heran aja kambing enggak dibedakin kayak lo dua hari ini kenapa gak masuk? Sakit lo belum sembuh?”. Raya langsung memukul Arla dengan boneka sapi nya. “Duh.. sakit tau!!”.. “Yeeh siapa suruh lo ngeledekin gw kayak gitu? Cantik kayak gini masa disamain sama kambing yang enggak dibedakin? Jahat!”. “Jangan manyun gitu dong, kan gw Cuma nanya..” kata Arla sambil mengelus-elus rambut panjang Raya. “Iya nih, gw masih gak enak badan.. lemes banget”..
Canda tawa antara mereka sangat lepas, hingga akhirnya Reyka kakak Raya memanggil Raya, “Ray.. ada telepon dari Dokter Bima nih, katanya penting”. Raya langsung sigap berlari menuruni anak tangga dan menerima telepon dari Dokter Bima “Raya kamu bisa kerumah sakit sekarang? Ini sangat penting.” Saat Dokter Bima berbicara seperti itu, perasaan Raya mendadak panik dan takut.. “Baik, Dok. Raya segera kerumah sakit”. Raya berlari menuju kamar nya, diambilnya tas biru awan yang digantung dibelakang pintu. “Lo mau kemana? Buru-buru banget?” Tanya Arla heran. “Jangan banyak tanya deh lo. Mending lo anterin gw sekarang kerumah sakit” Kata Raya dengan panik. Arla langsung menuruti kata-kata Raya dan mengantar nya kerumah sakit dengan menggunakan motor nya..
“Gimana hasil nya, Dok? Raya sehat-sehat aja kan?” Tanya Raya dengan mimik wajah yakin dan menatap Dokter Bima dengan pandangan yang tak seperti biasanya. “Saya juga tidak percaya dengan hasil test ini, sudah 3 kali diulang namun hasilnya tetap sama, kamu positive mengidap radang selaput otak stadium lanjut. Radang ini menyebar sangat cepat, perkembangannya melesat tinggi setiap 3 hari sekali. Maaf Raya, kamu harus melakukan perawatan lebih lanjut.”..
Demi dunia dan segala isinya, ini semua bagai petir ditengah hujan badai yang menggelegar diantara telingaku. Aku merasalumpuh seketika, bagaimana mungkin aku yang selama ini terlihat sangat sehat ternyata mengidap radang selaput otak stadium lanjut? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis penderita penyakit seserius ini? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis yang divonis tidak akan lama lagi untuk bertahan hidup?
Arla yang sejak tadi menemani Raya didalam ruangan Dokter Bima sekejap menjadi kaku, ia merasakan sambaran arus listrik yang kuat menyambar susunan saraf otaknya. Arla tidak percaya dengan hasil test tersebut, ia bersihkeras menayakan penyakit itu pada Dokter Bima, “Dokter pasti salah! Enggak mungkin Raya sakit kayak gini! Raya sehat!”.. isak tangis memenuhi ruangan putih tersebut, Arla memeluk Raya dengan kuat dan Raya semakin larut dalam tangisannya. Ia merasa hidupnya hancur, sebuah penyakit gini hinggap didalam tubuh nya dan tidak lama akan menggerogoti semua sistem dalam tubuhnya..
Tuhan.. bila ini kehendakmu, mengapa harus gadis ini yang menderita penyakit seserius ini? Mengapa bukan aku saja? Tuhan.. aku mencintainya,jangan biarkan tubuh lemah nya lama-lama habis dengan penyakit aneh itu. Sembuhkan Raya...
Hari ke hari kondisi tubuh Raya sangat memperihatinkan, Raya sudah tidak diperbolehkan sekolah mengingat kondisi nya yang tak sekuat dulu lagi, Arla masih setia menemani Raya setiap hari dan Raya pun tidak merasa pesimis dengan penyakitnya. Mereka masih seperti dulu, masih sama dan tak pernah berubah walaupun mereka masih belum mengutarakan perasaan nya masing-masing, namun mereka mengetahui bahwa mereka saling mencintai. “Ray, mungkin gw terlalu lama ngomong ini ke lo, tapi maaf gw baru bisa berani ngomong ini ke lo sekarang” Tutur Arla disela-sela canda tawa nya bersama Raya. “Halaah sok-sok serius deh lo, ngomong apasih emangnya?”.. “Kita kenal udah lama, Ray. Gw gak tau rasa ini ada sejak kapan. Tapi gw sayang lo, Ray! Gw mau jadi orang yang bisa jagain lo sampe kapanpun”...
Semenjak hari itu, Raya semakin kuat melawan penyakitnya. Karena Arla.. lelaki yang menjadi motivasi nya untuk bertahan hidup, menjadi alasan nya untuk tetap bernafas dan membuka matanya. Empat bulan terakhir dilalui Raya dengan ribuan senyum dan bahagia. Begitupun dengan Arla, ia menjaga Raya dengan sepenuh hati dan berharap gadis yang dicintainya ini dapat bertahan hidup hingga seribu tahun lagi. Namun takdir berkata lain.. akhir tahun lalu Raya menghembuskan nafas terakhirnya, ternyata penyakit ganas itu tetap menjadi pemenang. Raya menghabiskan detik akhir hidupnya tetap bersama Arla dan keluarga nya. awalnya Arla dan keluarga tidak dapat menerima kepergian Raya, namun mereka tetap berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian Raya.
Arla..
Hari ini tugasku sudah selesai..
Aku harus pergi, bukan pergi meninggalkanmu..
Namun hanya sekedar pergi dari nyata nya kehidupanmu..
Hingga akhirnya, mungkin nanti kita akan bersama kembali..
Ditempat yang baru, bahkan dikehidupan yang baru..
Aku masih bisa merasakan indahnya senyummu, candamu, bahkan tawamu..
Terimakasih sudah menjadi alasan ku untuk tetap bertahan hidup..

Dariku yang mencintaimu, Raya

Senin, 25 Maret 2013

When love was speechless..

Diposting oleh Unknown di 22.26 0 komentar

Pagi sendu, mendung.. bagai awan tak ingin menunjukan dirinya pada matahari, memperlambat langkah Rafsya, seorang mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta, gadis yang sedang merantau dan jauh dari keluarganya ini sangat berambisi menjadi seorang penulis. Walaupun kedua orang tua nya tidak pernah mendukung mimpi gadis ini, namun itu semua tidak pernah menghentikan langkah kakinya untuk mencapai semua keinginannya. Pagi ini masih seperti biasa.. hanya secangkir kopi hangat dan suara burung yang menemani hari-hari Rafsya. Gadis ini dikenal sebagai gadis mandiri, saking mandiri nya.. ia kadang dijuluki “Gadis Anti Sosial”, tidak pernah aktif dalam organisasi apapun dan seorang gadis yang susah berbaur dengan lingkungan sekitarnya, seorang gadis yang tidak bisa cepat memposisikan dirinya dalam lingkungannya sebagai mahasiswi. Namun Rafsya dikenal sebagai mahasiswi terbaik tahun ini.. pantas saja Rafsya dikenal sebagai mahasiswa yang pandai, IPK ia tahun ini menjadi sorotan para mahasiswa lainnya, mendapatkan 3.99 adalah salah satu mimpi para mahasiswa lainnya dan Rafsa lah yang berhasil mendapatkan itu..
“Hei.. Kamu Rafsya ya?”.. seketika terdengar alunan suara dari lorong kelas sebelah, Rafsya yang dikenal gadis jutek itu tidak menanggapi suara tersebut, ia tetap fokus dengan novelnya dan setumpuk buku yang digenggamnya.. “Hei.. Halo.. Kamu Rafsya, kan?” lagi-lagi suara itu terdengar, bahkan sekarang suara itu lebih jelas ditelinga Rafysa. “Hmm.. Hai.. iya aku Rafsya, maaf kamu siapa ya?” Ucap Rafsya dengan suara sinis sambil kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya. “Aku.. Aku Bara. Salam kenal ya..”. ternyata suara yang menyapa Rafsya berasal dasri suara Bara, siapa yang tidak kenal Bara.. asisten dosen yang satu ini dikenal sebagai mahasiswa yang berkarisma, paras wajahnya yang manis selalu membuat para mahasiswi lainnya tergila-gilan padanya.. “oh.. iya sama-sama”. Kata Rafsya tanpa menoleh ke arah Bara.. “selamat juga deh IPK kamu paling tinggi tahun ini.” Kata Bara sambil mengulurkan tangannya ke tangan Rafsya. Tanpa basa-basi Rafsya mendekatkan kedua tangannya tanpa menjabat tangan Bara “Terimakasih banyak ya..” dengan tergesa-gesa Rafsya pergi meninggalkan Bara. Rafsya juga dikenal sebagai mahasiswi yang sangat taat dengan agama. Oleh karena itu Rafsya tidak menoleh dan melihat kehadapan Bara dan Rafsya juga tidak menjabat tangan Bara.
Siang hari nya di kantin, Bara yang diam-diam sering memperhatikan Rafsya mencoba menghampiri Rafsya yang sedang asyik dengan semangkuk bakso yang dimakannya.. sadar sedang diperhatikan oleh seseorang akhirnya Rafsya bergegas perfgi dari kantin. Bara merasa sangat bingung dengan tingkah laku Rafsya, satu hal yang Bara tidak tahu dari Rafsya adalah Rafsya tidak pernah mau dekat dengan lelaki selain dengan keluarganya. Bara tetap mengikuti jejak langkah Rafsya yang sedang menyusuri lorong demi lorong koridor kampus.. kecantikan hati Rafsya lah yang telah berhasil memikat hati Bara. Jangan bertanya tentang paras cantiknya, kesantunan akhlaknya, dan ibadahnya. Namun dengan kecantikan hati Rafsya lah Bara menjadi jatuh hati padanya. Satu demi satu semua kelakuan Rafsya selalu diperhatikan oleh Bara, hampir setiap pagi Bara meletakan setangkai mawar putih di loker tempat Rafsya menaruh barang-barangnya. Tanpa di kertahui Rafsya tentunya..
“Terus kejar mimpimu, sang penulis berhati malaikat. Dari aku yang mengagumimu”.. potongan kata yang ditemukan dalam lilitan setangkai mawar putih pagi ini yang dibaca oleh Rafysa. Rafsya memang sangat menyukai mawar putih, karena mawar putih dapat melambangkan kesucian, banyak tanda tanya yang terlontar dalam pikiran Rafsya.. “bunga dari siapa ya? Kenapa setiap pagi selalu ada mawar putih dengan kata-kata puitis seperti ini?”. Dari kejauhan Bara tersenyum manis melihat Rafsya yang sedang menghirup harum bunga mawar putih darinya. Bara selalu menyempatkan diri setiap paginya untuk membeli mawar putih dan diberikannya pada Rafsya. Namun Rafsya tidak pernah mengetahui tentang itu dan Bara pun tidak mau Rafsa tahu bahwa dirinyalah yang memberikan mawar putih setiap pagi di loker Rafsya.
Hari berganti hari, detak jam pun selalu berputar seiring berjalannya waktu, Rafsya tetap fokus dengan dunia menulisnya dan Bara juga tetap fokus dengan serentetan praktikum kedokterannya. Maklum saja, memasuki semester akhir kedua mahasiswa ini sibuk dengan skripsi yang mereka kerjakan. Namun itu semua tidak menghentikan kebiasaan Bara yang selalu meletakan mawar putih di loker Rafsya.. “siapapun yang memberikan ini, aku mau bilang terimakasih.. pasti orang yang memberikan ini hatinya secu sesuci mawar putih ini..” kata Rafsya sambil mengcium dan menghirup aroma mawar putih itu..
Hari berikutnya.. sengaja Rafsya melangkahkan kakinya lebih pagi dari biasanya, sengaja ia ingin mencari tahu tentang siapakah orang yang meletakan mawar putih di lokernya. Pukul 06.00 Rafsya sudah berada di kampus, tidak seperti biasanya.. Rafsya yang biasanya datang ke kampus saat mata kuliah berlangsung kini berada pagi-pagi buta hanya untuk menyelidiki seorang pengagum rahasianya yang selalu memberikan mawar putih, di waktu yang bersamaan Bara hari itu tidak meletakan mawar putih di loker tempat biasanya ia memberikan aroma indah mawar putih untuk Rafsya, gadis pujaannya.. Bara hari itu tidak datang ke kampus dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya...
Hampir sejam Rafsya duduk di pojok bangku taman dengan memasang wajah harap-harap cemas. Matanya mengelilingi seluk beluk lorong-lorong kampus dengan berharapan dapat mengetahui siapa orang yang selalu meletakan mawar putih beserta puisi-puisi indah di loker nya.. waktu terus berjalan.. tanpa dirasa sudah dua jam ia duduk ditempat yang sama, dengan pandangan yang sama, dan posisi duduk yang sesekali berpindah tempat, namun sayang.. orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, ia merasa sedikit kecewa karena tidak dapat mencari informasi tentang pengagum rahasianya.. dan ia pun memutuskan untuk beranjak dari bangku taman itu dengan seribu tanda tanya didalam hatinya.. “Ergggghhh.. kenapa gak keliatan sih orang itu? Tambah penasaran aja nihhhh!!!!!!”........
Seminggu berlalu, tanpa ada mawar putih dan sepucuk puisi di lokernya. Hati Rafsya makin bertanya-tanya dan ribuan tanda tanya mulai menghampiri malam-malam gadis ini. Entah dimana Bara saat itu, saat dimana Rafsya benar-benar menyimpan banyak tanya tentang si pengagum rahasianya. Dalam doa selalu ada potongan kalimat yang rutin diucapkan disela-sela doa nya.. “Ya Allah.. siapapun orang itu, pertemukan ku dengan dia. Andai aku bisa mengetahui siapa orang itu..” Rafsya memang gadis yang tidak pernah akrab dengan dunia cinta. Hari-hari nya dihabiskan dengan bertumpuk-tumpuk buku dan berlembar-lembar kertas mata kuliahnya. Dan memang Rafsya mempunyai tekad. “Sebelum toga sudah aku kenakan, aku tidak akan mau tahu apa itu cinta”..
Malam hari nya, saat Rafsya sedang teliti menyelesaikan tugas mata kuliah nya tiba-tiba ada suara yang memanggil ia dari arah depan rumahnya.. “Rafsya.. Rafsyaaaa...” seketika suara itu menghentikan goresan pena yang sedang dipegang oleh Rafsya, namun Rafsya tidak memperdulikan nya. dan dengan serius ia tetap pada pekerjaannya yang bertumpuk itu.. sampai akhirnya, Ibu Rafsya mengetuk pintu kamar Rafsya. “Sya.. ada tamu tuh. Nyariin kamu tuh dia”. Dengan langkah yang tetap ditemani oleh buku Rafsya pun bergegas membuka pintu kamar, “siapa,Bu? Malam-malam gini bertamu gak sopan banget sih..”. dengan sinis omongan itu terlontar dari bibir tipis Rafsya. “Hei.. apa kabar?..” suara itu.. suara yang selalu menggangu di telinga Rafsya, Bara.. ternyata Bara yang malam-malam berkunjung ke rumah Rafsya. “ngapain kamu kesini? Gak pernah di ajarin tata krama bertamu ya? Ini sudah malam..” ketus Rafsya. Mendengar itu Bara langsung merasakan miris. Entah apa yang dipikirkan oleh Rafsya, niat baik Bara ternyata disambut dengan kesinisan..
“Aduh.. omongan aku salah gak ya tadi itu, jadi ngerasa gak enak sama dia. Erghh.. biarin deh. Abisnya dia nyebelin..” celetuk Rafsya sambil menutup pintu kamarnya dan mematikan lampu disamping tempat tidurnya. Ditempat yang berlainan Bara pulang dengan membawa sebuah penyesalan. “Ampun deh.. dari sekian banyak cewek yang pernah gw deketin baru kali ini ada cewek yang galaknya ngelebihin macan. Gimana mau deket.. denger suara gw aja dia udah males”.. ucap Bara sambil mengacak-acak rambut..
Hari berganti hari.. kedekatan mereka yang awalnya selalu tidak akur lama kelamaan mulai membaik, hingga akhirnya Bara memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya yang selama ini sudah dipendam, bagai seekor kupu-kupu yang hinggap di bunga, seperti itulah yang dirasakan Bara sekarang. Gadis cantik yang selama ini ia puja dan ia banggakan ternyata juga diam-diam menyimpan perasaan yang sama. Hingga singkat cerita akhirnya Rafsya menerima Bara untuk menjadi kekasihnya...

Kamis, 07 Maret 2013

Dava

Diposting oleh Unknown di 04.27 0 komentar

Hari ini tepat dua tahun setelah kepergian Dava, lelaki yang kurang lebih 5 tahun telah menyempurnakan hari-hari Aya. Lelaki yang selalu dikagumi oleh Aya ini memang sudah menghembuskan nafas terakhirnya karena salah satu kecelakaan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Seperti biasa.. Aya selalu menghabiskan pergantian tahun dengan Dava, walaupun 2 tahun belakangan ini ia harus rela menghabiskan sisa tahun di depan makan Dava..
Kurang lebih 5 tahun yang lalu kisah cinta dua manusia ini dimulai. Dava seorang lelaki super jutek yang dikenal sebagai ketua osis ini berhasil memikat hari Aya, gadis angkuh yang disegani teman-temannya, dikenal sebagai gadis cerdas disegala bidang. Awal mula pertemuan mereka disebuah gedung saat Aya sedang melakukan hobby nya yaitu sebagai fotografer. Kegiatan ini memang tekun dilakukan Aya setiap petang hari penghabisan matahari. Dava yang saat itu memang selalu mengunjungi gedung tua disalah satu tempat di Bandung dengan membawa kanvas dan peralatan lukis lainnya. Seorang seniman yang diam-diam mengagumi seluruh isi bumi ini tanpa sengaja melukis seorang gadis yang sedang serius dengan kameranya. Warna demi warna di campurkan didalam kanvas putih nya, hingga akhirnya terlukislah seorang gadis cantik berambut panjang terurai dengan sebuah kamera yang dipegangnya.
Hari berikutnya mereka dipertemukan lagi, walau masih tanpa komunikasi, Dava masih memandangi Aya dari jarak kejauhan. Mencoba melukis tanpa harus diketahui oleh Aya, dan Aya pun masih belum sadar bila belakangan ini ternyata ada salah satu lelaki yang diam-diam memperhatikannya. Waktu terus berganti, hari terus berlalu dengan aktivitas yang masih sama. Aya yang sibuk dengan dunia foto nya dan Dava yang selalu sibuk melukis Aya dari jarak kejauhan. Entah sudah berapa puluh wajah Aya yang dilukis oleh Dava. Dan ternyata diam-diam Dava mulai menyukai Aya, tanpa ia tahu bahwa sebenarnya Aya adalah salah satu siswi disekolahnya.
Awal Senin seperti biasa, beberapa siswa mungkin mempunyai pemikiran bahwa “Monday is Mon(ster)Day”. Namun tidak untuk Aya. Gadis ini selalu bersyukur setiap hari nya, tanpa perduli masalah apa yang akan didapatkan nya di hari itu. Pagi ini dengan antusias nya ia memulai langkahnya disekolah. Tetap dengan kamera yang selalu dibawanya didalam tas dengan tumpukan buku yang dipegangnya dengan erat. Dengan topi dan dasi yang masih acak-acakan, tak tertinggal sebuah ikat pinggang yang telah dikenakannya namun terbalik...
*brakkk* buku-buku yang ada di tangan Aya tiba-tiba jatuh karena sebuah keteledoran seorang lelaki yang menabraknya, “Aduuuhh!! Gimana sih kalau jalan lihat-lihat donggg!!” ucap Aya dengan nada agak kesal. “Yampun maaf.. maaf gw nggak sengaja.” Suara ini ternyata berasal dari suara Dava. Dava yang dengan buru-buru membantu Aya untuk membereskan buku-buku yang tercecer dilantai. “Besok-besok kalau jalan jangan pake kaki aja ya, mata dipake juga” Kata Aya dengan sinis sambil meninggalkan Dava. “Gila! Cewek cantik kayak dia ternyata sinis kayak gitu. Gw kira..... ahh udahlah gak penting juga” ucap Dava dalam hati.
Gadis yang selama ini menjadi model dalam kanvas-kanvas Dava ternyata adalah seorang gadis yang angkuh. Awalnya Dava memang berusaha untuk melupakan puluhan lukisan tentang Aya, ternyata tidak bisa. Semakin keras ia mencoba melupakan, semakin keras pula ingatannya tentang Aya.  Ternyata mencoba melupakan gadis ini adalah salah satu hal yang menyulitkan untu Dava, hingga akhirnya Dava memutuskan utnuk mencari tahu lebih banyak tentang Aya.
Ternyata hampir satu bulan Dava mencari tahu semua informasi tentang Aya. Diam-diam ia menuruhsimpati pada Aya, diam-diam ia mengagumi Aya, diam-diam ia menyukai Aya, dan mungkin ia mencintai Aya secara diam-diam. Salah satu sahabat Aya memberitahu pada Aya bila Dava selalu mencari tahu tentang Aya. Namun respon Aya masih sama, flat. Gadis ini memang dikenal belum bisa membuka hatinya pada siapapun semenjak duduk dibangku 10. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang membuat Aya dekat dengan Dava. Sekolah mereka mengadakan lomba fotografi, hingga akhirnya Aya mengikuti lomba tersebut, dan mulai sejak inilah kedekatan mereka dimulai.
“Lo ikut lomba juga?” Tanya Dava. Ternyata ketua panita lomba itu adalah Dava, lelaki yang disegani Aya sejak kejadian di koridor sekolah minggu lalu. “Iya, kenapa? Semua siswa berhak ikut kan?” Tegas Aya dengan sedikit keras. Suasana hening, sapaan Dava ternyata tetap dibalas dengan ketus oleh Aya. Namun Dava idak memperdulikan itu, ia tetap membimbing Aya selama lomba itu berlangsung. Singkat cerita Aya lah yang memenangkan lomba fotografi itu, memang bukan isapan jempol belaka semua jepretan Aya terpampang di mading sekolah.
“Hei.. selamat ya!” Ucap Dava sambil menjulurkan tangannya pada Aya, “Oke.. thanks lhooo udah bantuin gw juga. Hehe” kata Risya sambil tersenyum, ini kali pertama Dava melihat Aya tersenyum untuknya, ada rasa yang tak biasa saat mereka saling sejabat tangan dan bertatapan. Seakan waktu berhenti berdetak. Hingga akhirnya.. singkat cerita mereka memutuskan untuk bersama, walaupun awal mula hubungan mereka agak sedikit hambar. Karena Aya adalah sosok gadis yang lumayan kaku dengan lelaki. Namun itu semua tidak menjadi penghambat bagi hubungan mereka. Malah justru menjadi sebuah pengerat terselubung didalam hubungan mereka itu.
hari-hari mereka begitu indah, dengan atau tidak ada nya salah satu dari mereka tetap menjadi pelenggap didalam hubungan yang harmonis ini. Hingga suatu ketika keadaan yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka terjadi. Malam itu, tepatnya malam dimana pergantian umur Aya. Dava yang bertujuan untuk menemui Aya pada malam itu mengalami suatu kecelakaan yang merenggut nyawanya. Mobil yang ditumpanginya ditabrak oleh salah satu truck dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang dimimpikan mereka berdua saat kisah cinta mereka akhirnya berakhir dengan suatu kejadian tragis. Awalnya Dava hanya mengalami pendarahan di kepala yang menyebabkan penyumbatan otak. Namun Tuhan berkata lain.. Dava akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya dimalam yang harusnya menjadi malam teristimewa bagi Aya. Aya yang dengan rasa bersalah karena selalu menyia-nyiakan waktu Dava saat bersamanya sangat terpukul dengan kepergian Dava..

By: Syr.

Senin, 25 Februari 2013

Burung Kertas

Diposting oleh Unknown di 08.11 0 komentar
Pagi mendung dengan milyaran rintik hujan yang turun dari langit. Sherly.. begitu ia di kenal, seorang gadis yang masih duduk dibangku kelas 12 SMA ini dikenal sebagai gadis periang dan sangat disukai teman-temannya karena keramahannya. hari ini seperti biasa Sherly memulai langkahnya dengan sebuah senyuman riang yang dibawa nya dari rumah hingga sekolah. selalu seperti ini senyum yang merekah dari bibir nya mampu membuat semua mata menjadi tertuju padanya, tidak lain dengan Dimas.. lelaki yang selama ini menemai hari-hari Sherly, ya. Dimas adalah kekasih Sherly. sudah hampir bertahun-tahun mereka menjalani kisah cinta nya di SMA. berawal dari sebuah MOS mereka berkenalan hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Hari berganti hari, detak jam pun mulai berpindah tempat.. setiap hari selalu ada kisah manis diantara mereka berdua. tak pernah sedikitpun waktu yang dilewati mereka begitu saja, pasti selalu ada yang bermakna.. mulai dari Dimas yang selalu mengucapakan "Selamat pagi, Cinta" kepada Sherly, sampai Sherly yang rutin setiap pagi nya mengantarkan sebuah nasi goreng dengan bentuk "love" sebagai sarapan Dimas. tak pernah satu hal pun mereka lewati dengan kesedihan. hidup mereka seakan sempurna dan berwarna.

Singkat cerita.. kelulusan sudah didepan mata, Sherly dan Dimas lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.. Sherly melanjutkan kuliahnya di kedokteran. namun lain hal nya dengan Dimas, Dimas yang notabene hanya seorang anak tukang becak harus rela melalui hari-hari nya tanpa meneruskan sekolah dijenjang yang lebih tinggi lagi. semua itu tidak merubah perasaan antara mereka. tetap ada cinta di sela-sela keseibukan mereka masing-masing.. sudah lama hubungan mereka berjalan. satu samalain pun saling mengenali masing-masing sifat dan sikap nya. hampir tidak ada pengecualian untuk mereka berdua..

Hingga akhirnya..
Pada suatu hari..... tepat satu bulan sebelum ulangtahun Sherly, Dimas menyiapkan sebuah hadiah untuk ulangtahun kekasihnya itu.. Dimas membuat banyak burung-burung yang terbuat dari kertas origami. hampir ratusan burung yang sudah dibuat Dimas untuk hadiah ulangtahun Sherly. dan kebetulan pada saat yang bersamaan, Dimas juga merencakanan sebuah kejutan untuk melamar Sherly. tanpa Sherly ketahui.. ternyata semua ini sudah dirangkai indah oleh Dimas.

24 November 2012, tepat ulangtahun Sherly hari ini, Dimas sudah menyiapkan kue ulangtahun beserta lilinya dan sebuah kotak yang berisikan ratusan burung-burung kertas yang disetiap burung terdapat keinginan Dimas untuk dapat hidup bersama Sherly hingga akhir hayatnya. tak lupa sebuah cincin yang sudah disiapkan Dimas untuk meramal Sherly dihari ulangtahunnya. Dimas sangat antusias pada hari itu. sangat bersemanat untuk menyambut ulangtahun kekasih hati nya ini.. hingga akhirnya sebuah kejadian yang tidak pernah dibayangkan oleh Dimas pun terjadi..
Dimas
Happy Birthday, Sayaaaanggg!!!
(sambil memberikan kue dan lilin pada Sherly)
Sherly
(terdiam dan hanya senyum)
Waaahh.. Dim... ya ampun.. makasih bangettttt!!
(memeluk Dimas dan meniup kue ulangtahun)
keadaan saat ini sangat berkesan bagi Sherly dan Dimas. dan hingga akhirnya Dimas mengeluarkan kotak berisi burung-burung kertas dan sebuah kotak yang berisikan cincin..
Dimas
Ini buat kamu..
(memberikan kotak)
isi nya nggak seberapa kok, cuma kertas-kertas yang aku rangkai jadi burung, tapi disetiap burung itu ada harapan-harapan untuk hubungan kita lho.. smoga kamu suka ya sayang..
Sherly
(membuka kotak)
Dim... kamu selalu penuh kejutan. makasih bangett!! aku suka banget sama burung-burung ini, Lucu..
Dimas
ada hadiah satu lagi buat kamu nihh..
(berlutut dan membuka kotak cincin)
Sherly bingung.. ada kejadian aneh disini. ternyata Dimas melamar Sherly hari itu juga. namun.. namun.. Sherly tidak dapat menerima lamaran Dimas waktu itu.
Sherly
Ini maksud nya apa?...
Dimas
ini tanda keseriusan aku sama kamu, Sher.. aku mau kamu jadi pendamping aku sampai kapanpun.
Sherly
Dim.. kamu nggak ngerti.. aku.. aku gak bisa,Dim. aku gak bisa terima ini.
Dimas
Kenapaaa?.. bukannya kita udah ngerencanain ini dari lama?
Sherly
kamu nggak tau masalahnya dan kamu nggak ngerti.. aku gak bisa! orangtua aku nggak setuju kalau aku sama kamu.
Dimas
lhoo?? kenapa?
Sherly
karena kamu gak punya pekerjaan.
Hening... omongan Sherly bagai sebuah meteor yang jatuh menimpa wajah Dimas. Dimas marah besar dan mengucapkan kata-kata diluar kesadarannya..
Dimas
cuma karena itu? dasar cewek matre! keluarga matre! harusnya aku emang nggak bilang kayak gini. anggap kita gak pernah kenal! suatu saat aku akan jadi orang terpandang. lihat nanti!
Dimas pergi meninggalkan Sherly. dan Sherly hanya bisa terdiam dan menangis.


Hampir enam bulan Sherly tidak memberikan kabar untuk Dimas. Dimas seakan-akan sudah tidak mengenali dan mengetahui kabar tentang Sherly. keadaan Dimas kini berubah. ia sudah sukses.. siapa yang tak kenal Dimas? seluruh pelosok desa pun tahu siapa "Dimas"..
Sore harinya, saat Dimas mengendarai sebuah mobil, tiba-tiba ia bertemu dengan Ibu Sherly. niat buruk Dimas mulai keluar, ia ingin menabrak Ibu Sherly untuk balas dendam.. namun hati kecil nya menahan.. dan akhirnya Dimas pun malah mengikuti kemana Ibu Sherly pergi. dan ternyata Ibu Sherly mendatangi sebuah makam.. disebuah makam itu Dimas merasakan hal aneh..
Dimas
Ibu.. maaf.. Dimas lancang ngikutin Ibu sampe sini.. itu makam siapa,Bu?
Ibu Sherly
ya ampun Dimas. kamu kemana aja? ini... ini.. ini makam Sherly..
Dimas
(Teriam dan termenung)
Bohong...........
Ibu Sherly
Dimas.. Ibu gak bohong. semenjak kamu pergi ninggalin Sherly hari itu penyakit Sherly semakin parah, kanker tulang belakangnya yang selama ini disembunyikan dari orang-orang dan terutama kamu semakin memburuk. sudah hampir dua bulan ini Sherly meninggal dunia. ini Sherly sempet titip surat ke kamu
(memberikan surat pada Dimas)
Dimas kaget mendengar itu, ia tetap tidak percaya bila makam itu adalah makam Sherly. hingga akhirnya ia membaca surat dari Sherly..

Dear Dimas..
Dimas.. mungkin saat kamu baca surat ini nanti aku udah nggak bisa ada dideket kamu lagi. maafin aku, Dimas.. bukan karena orang tua aku gak setuju dengan hubungan kita,tapi karena aku sakit, Dim.. aku nggak mau kalau nanti akhirnya hanya jadi beban untuk kamu. jangan pernah lupai aku ya.. aku selalu ada dan aku selalu hidup dihati kamu.
dari aku yang mencintaimu, Sherly. 


THE END

Kamis, 21 Februari 2013

Ketika Mimpi Mengutarakan Hati.

Diposting oleh Unknown di 04.35 0 komentar

Written by
Syahrima


Pagi yang cerah, keadaan sekeliling sepi.. Hanya kicauan
burung yang terdengar. Seakan merasakan kesepian dan
kesendirian. Bunga-bunga disekitar taman yang harum
merekah dan secangkir kopi hangat kemudian terdengar suara
hembusan angin. Tama mengawali harinya dengan bergegas pergi kesebuah kafe
untuk mengerjakan tugas kuliah nya. dengan menggunakan motor
lengkap dengan helm,jaket,dan masker. Di cafe ini tempat biasa Tama menghabiskan waktu luangnya.
walaupun hanya ditemani dengan secangkir kopi hangat dan
tumpukan tugas yah harus dikerjakannya. Tama melihat seorang
gadis berkerudung disisi cafe. dan ternyata gadis ini sudah
sering dilihat oleh Tama setiap ia mendatangi cafe ini.
Keesokan harinya Tama mendatangi cafe yang sama. Dengan
tujuan yang sama untuk mengerjakan tugas namun hari ini ia
juga datang ke cafe untuk menemui sahabatnya yang bernama
Faiz.
FAIZ
Woi Tam! Apa kabar men? Masih idup
juga rupanya.. Hahahahaa.. Masih
gini-gini aje lo. Gak bosen apa
sendirian terus?
TAMA
Kabar baik sob.. Apaan sih lo??! gw
masih betah menyendiri coyyyy!!
(dengan nada ketus)
FAIZ
Wetsss.. Santai bro! mau gw kenalin
gak sama cewek? Cakep nih.. lumayan
lah daripada lumanyun..
TAMA
Ahh.. Paling juga orangnya biasa
aje.. Tapi siapa sih emangnya?
gakpapa deh biar gw gak kesepian
gitu ye..

Dengan rasa penasaran Tama melihat dengan pandangan serius ke
arah Faiz, tiba-tiba seorang gadis datang dari arah
berlawanan.
RISYA
Hai.. Tama ya?
(sambil tersenyum dan
menjabatkan tangan pada
Tama)
TAMA
Hmm..emm.. Iya.. Iya gw.. Gw Tama.
ohh.. Jadi elo yang mau dikenalin
si Faiz ke gw?
(sambil menepuk bahu Faiz)

Tama tersenyum dengan wajah yang memerah.. ternyata gadis
yang dikenalkan Faiz adalah gadis yang selama ini
diperhatikan oleh Tama setiap ada di cafe. Tama,Faiz dan
Risya banyak berbicara dan bercanda juga bertukar fikiran
hingga banyak lelucon yang muncul dipembicaraan mereka.
Hingga akhirnya Tama menanyakan alamat rumah Risya.
TAMA 
Rumah lo dimana, Sya? Kali aja
nanti kalau gw iseng gw bisa main
gitu, syukur-syukur kalau dapet
makan geratis.. Heehee..
(sambil mengambil alat
tulis untuk mencatat
alamat Risya)

Tama mendatangai rumah Risya untuk mengajak Risya makan malam
di cafe yang biasa mereka datangi hingga akhirnya mereka
pergi ke cafe tersebut untuk makan malam.
Tama memberanikan diri untuk menyatakan isi hatinya pada
Risya, dan Risya menerima Tama sebagai kekasih hatinya.
TAMA
(sambil menggerak-gerakan
kakinya)
Hm.. Sya.. Kayaknya ada yang mau gw
omongin nih.. boleh gak nih gw
omongin sakarang?..
RISYA
Omongin apaaaa?... Kayaknya serius
banget.. Hee..hehehe
TAMA
Emang serius banget ini.. ehhh tapi
belum tepat ah waktunya.
RISYA
Yee.. Serius ah, mau ngomong apa
sih lo? Jangan bikin kepo ahhh..
(sambil memukul lengan
Tama)
TAMA
Kepoooo banget sih.. Hmm.. To the
point aja deh. Gw... gw.. Gw suka
sama lo, Sya. lo mau jadi pacar gw
gak?
(Tama menatap Risya)
Keadaan seketika hening, mereka saling berpandangan dalam
waktu yang cukup lama, dan akhirnya Risya menerima cinta
Tama.
RISYA
Hm..gimana ya.. Iya, gw mau.. Gw
juga ngerasain apa yg lo
rasain,Tam.. gw mau jadi pacar lo..
Dengan wajah memerah, Tama tersenyum bahagia. Dan sejak malam
itulah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Risya sedang membuka salah satu situs jejaring sosial, hingga
akhirnya ada seorang lelaki yang mengajak Risya untuk
berkenalan dan akhirnya Risya kenal lalu dekat dengan seorang
lelaki yang bernama Arief.
Risya dengan laptopnya yang sedang chatting
dengan lelaki yang bernama Arief.
Risya bertemu dengan Tama, mereka saling melepas rindu..
namun ada yang berbeda dari gerak-gerik Risya. Hingga
akhirnya Risya tiba-tiba berpamitan pergi pada Tama dengan
sikap aneh dan terkesan terburu-buru
RISYA
Tamaaa... kamu udah dari tadi
sampenya?
(sambil mengelus kepala
Tama)
TAMA
Enggak kok.. Kamu dari mana aja kok
lama?
RISYA
Lama?nggak Kok, perasaan cepet..
Mungkin karena kamu sampe duluan
jadi ngerasa lama. Maafin aku yaa..
TAMA
Iyee.. Gakpapa. Semalem kamu
kemana? Aku telepon kok gak
diangkat malah kamu matiin gitu
aja? sengaja atau gimana tuh?
RISYA
Nggak kemana-mana kok... ahh.. Kamu
tuh mikir nya jelek mulu sih ke
aku. aku tuh lagi mumetttt banget
sama tugas
(mimik muka kebingungan)
Mereka saling berbincang hingga pada akhirnya Risya tiba-tiba
berpamitan untuk pergi. Tama bingung dengan tingkah laku
Risya. Dan Tama hanya terdiam melihat Risya pergi dengan
perlahan.
RISYA 
Tamm.. maaf ya aku gak bisa lamalama
nihh..
TAMA
Pergi kemana lagi siiiihhh????..
baru sebentar udah pergi lagi. Aneh
banget kamu nggak biasanya kayak
gini..
RISYA
Aku mau pergi nihhh buru-buru
banget. Nanti aku kabarin kamu
yaaaaa..
Dan Risya pun pergi meninggalkan Tama dari cafe tersebut.
Risya menghubungi Tama untuk mengajak bertemu disebuah taman
siang ini.. mereka membuat janji untuk saling bertemu dan
Risya ingin meminta maaf kepada Tama
RISYA
Halo.. Lagi ngapain kamuuu?.. aku
ganggu nggak nihh?
TAMA
Haii.. gak kokk. Lagi ngerjain
tugas aja nih, kenapa, Sya?
(dengan nada datar yang
terkesan sedang kesal)
RISYA
Gak kenapa-kenapa sih.. Kita
ketemuan yuk, kangen nihh..
TAMA
Ahh nanti ditinggal lagi kayak
kemarin. Gak mau ahh
(dengan nada bercanda)
RISYA
Ihh kamu.. Nggak deh nggak.
Seriusan nih kita ketemuan, aku
tunggu jam 2 di taman biasa yaaa..
Keadaan jalan raya dengan lalu lalang kendaraan.. terlihat
disebuah taman Tama sedang terdiam menunggu Risya.
Hampir sejam Tama menunggu Risya ditaman yang sudah
dijanjikan, namun Risya tak kunjung datang... Tama sudah
meyiapkan sebuah mawar merah untuk diberikan pada Risya.
Hampir 3 jam Tama menunggu Risya di taman hingga hujan turun
membasahai seluruh tubuhnya namun Risya tetap tidak datang,
hingga akhirnya Tama memutuskan untuk meninggalkan Taman itu.
TAMA 
Harusnya gw nggak dateng kesini..
Harusnya gw nggak usah turutin apa
mau dia, kalau akhirnya kayak
gini.. Ternyata emang semuanya udah
nggak sama kayak dulu lagi...
Dan akhirnya Tama pun pergi meninggalkan Taman itu, bunga
mawar yang sudah disiapkannya ditinggalkan bergitu saja. Tama
pergi dengan perasaan kecewa.
Risya mencoba menghubungi Tama namun tak ada jawaban. Setelah
3 kali menghubungi barulah diterima oleh Tama. Dan Risya
meminta maaf kepada Tama.
RISYA
Halo.. Tam.. Tama..
TAMA
Iya. Kenapa?
RISYA
Aku..aku mau minta maaf. aku tau
kamu marah ya sama aku..
TAMA
Kemana aja kamu, Sya? Udah kesekian
kalinya kayak gini.. Kamu yang
ngajak ketemuan tapi kamu yang ngga
dateng.
RISYA
Iyaa.. Maafin aku Tam. Aku tau aku
salah..
TAMA
Aku tunggu kamu dari siang sampe
sore. Kamu tetep aja nggak dateng.
Kemana sih??
RISYA
Aku pergi,Tam.. Ada keperluan
mendadakan yang nggak bisa aku
tinggalin gitu ajaaa.. Aku mau
besok kita ketemu. Sekarang aku
janji nggak akan telat atau gak
dateng lagi. Plissss
(dengan nada yang memelas
untuk memohon agar Tama
mau menemui Risya)
TAMA
Iya.iya.. tapi aku nggak bisa kalau
sekarang-sekarang ini. Lagi banyak
tugas.
RISYA
Yaudah.. Kabarin aku aja kamu
bisanya kapan yahh.
(sambil mengakhiri
pembicaraannya di
telepon)
Arief tiba-tiba menelepon Risya untuk mengajak pergi esok
hari, padahal esok hari adalah waktu Risya untuk bertemu
dengan Tama. Hingga akhirnya Risya memutuskan untuk menemui
Arief setelah urusan nya dengan Tama selesai.
ARIEF
Sayang.. Kamu besok ada acara gak?
Kita pergi yuk.. Udah lama nih
nggak jalan lagi
RISYA
(dengan nada panik dan
terbata-bata)
Wahh? Besok? Mau kemanaaa?.. Nggak
sih aku gak tau ada acara atau
nggak. Liat besok deh ya sayang..
Keesokan harinya Risya datang ke sebuah cafe tempat ia biasa menghabiskan
waktu luangnya bersama Tama. Di tempat yang berbeda Tama yang
dalam perjalanan tiba-tiba mengalami kecelakaan, motor yang
dikendarai oleh Tama tertabrak oleh sebuah mobil yang
ternyata di kendarai oleh Arief. Risya menunggu cukup lama di
cafe tersebut hingga ia cemas.. Berjam-jam menunggu Tama tak
kunjung datang akhirnya Risya pergi dengan Arief.
RISYA (O.S.)
Tama kemana nih.. Aduh nggak
biasanya dia telat sampe di tekepon
nggak aktif gini.. Baru kali ini
aku cemas kayak gini yampun..
Dijalan Tama terlihat murung, tidak seperti biasanya.. Ia
mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ia juga melamun
saat mengendarai motor.
TAMA (V.O.)
Tuhan.. Langkah ini terasa ringkih
untuk melangkah. Setiap langkah
kaki ini terasa berat semenjak ia
merubah suasana hati yang berwarna
menjadi redup.
Tuhan.. Cinta yang begitu besar
pada wanita itu tidak melebihi
cintaku pada-Mu. Hingga saatnya
nanti hanya cinta yang dapat
mengutarakan kegundahan hati ini.
Karena sudah telat untuk bertemu dengan Risya, Tama akhirnya
mengendarai motor sangat kencang dan ternyata dari arah
berlawanan ia ditabrak oleh sebuah mobil.
Arief datang untuk menjemput Risya. Namun Risya mengira Arief
adalah Tama
ARIEF
Haii.. Sayang.. yuk.. Kita pergi
sekarang.
RISYA
Tamaaaa.... Lama banget yampun
datengnya kamu kemana aja..
ARIEF
Tama? Siapa itu?
RISYA
(keadaan panik)
Ituu.. Temen aku kokk..
Tanpa basa-basi Arief langsung pergi meninggalkan Risya
dengan keadaan marah, Risya yang bingung langsung mengejar
Arief hingga akhirnya mereka pergi dengan keadaan saling
bertengkar di dalam mobil.
Keadaan Arief yang benar-benar sedang marah pada Risya
membuat suasana semakin keruh. Mereka berdua saling mengadu
tuduhan satu sama lain.
ARIEF
Udah deh bilang aja kalau selama
ini kamu emang sembunyiin sesuatu
dari aku
RISYA
Bukan sembunyiin sesuatu, tapi
emang kamu nggak tau aja aku udah
deket sama Tama dari sebelum aku
kenal kamu.
(Flashback) sebuah makam yang usang dengan keadaan
sekitar yang teduh.
Foto-foto Tama dengan Risya lengkap dengan boneka dan hadiah
yang pernah Tama berikan pada Risya
(Flashback)
Tama menunggu Risya berjam-jam disebuah taman dengan membawa
sebuah bunga mawar sampai hujan turun dengan deras namun
Risya tak kunjung datang dan ternyata Risya sedang pergi
dengan Arief..
Risya tidak mengangkat telepon dari Tama karena sedang fokus
chatting didunia maya dengan Arief, lelaki yang baru
dikenalnya.
Tama yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi
lalu ditabrak oleh mobil dari arah berlawanan. Terlihat plat
nomer mobil tersebut yang menabrak Tama. Dan orang yang
menabrak Tama melarikan diri.
Mereka saling tuding hingga akhirnya percekcokan itu terjadi
didalam mobil. Dalam kondisii emosi Arief mengendarai mobil
dengan ketidaksadaran. Dan akhirnya dari arah berlawanan
mereka menabrak pembatas jalan karena kecerobohan Arief saat
mengendarai mobil.
hingga akhirnya Risya danArief pun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Arief meninggal dan Risya lumpuh total.. beberapa hari setelahnya Risya mengetahui bahwa Tama juga mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan Tama meninggal dunia. Risya sangat terpukul dan merasa bersalah atas kematian Tama..

Senin, 18 Februari 2013

Loker.

Diposting oleh Unknown di 01.07 0 komentar

Pagi sendu, mendung.. bagai awan tak ingin menunjukan dirinya pada matahari, memperlambat langkah Rafsya, seorang mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta, gadis yang sedang merantau dan jauh dari keluarganya ini sangat berambisi menjadi seorang penulis. Walaupun kedua orang tua nya tidak pernah mendukung mimpi gadis ini, namun itu semua tidak pernah menghentikan langkah kakinya untuk mencapai semua keinginannya. Pagi ini masih seperti biasa.. hanya secangkir kopi hangat dan suara burung yang menemani hari-hari Rafsya. Gadis ini dikenal sebagai gadis mandiri, saking mandiri nya.. ia kadang dijuluki “Gadis Anti Sosial”, tidak pernah aktif dalam organisasi apapun dan seorang gadis yang susah berbaur dengan lingkungan sekitarnya, seorang gadis yang tidak bisa cepat memposisikan dirinya dalam lingkungannya sebagai mahasiswi. Namun Rafsya dikenal sebagai mahasiswi terbaik tahun ini.. pantas saja Rafsya dikenal sebagai mahasiswa yang pandai, IPK ia tahun ini menjadi sorotan para mahasiswa lainnya, mendapatkan 3.99 adalah salah satu mimpi para mahasiswa lainnya dan Rafsa lah yang berhasil mendapatkan itu..
“Hei.. Kamu Rafsya ya?”.. seketika terdengar alunan suara dari lorong kelas sebelah, Rafsya yang dikenal gadis jutek itu tidak menanggapi suara tersebut, ia tetap fokus dengan novelnya dan setumpuk buku yang digenggamnya.. “Hei.. Halo.. Kamu Rafsya, kan?” lagi-lagi suara itu terdengar, bahkan sekarang suara itu lebih jelas ditelinga Rafysa. “Hmm.. Hai.. iya aku Rafsya, maaf kamu siapa ya?” Ucap Rafsya dengan suara sinis sambil kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya. “Aku.. Aku Bara. Salam kenal ya..”. ternyata suara yang menyapa Rafsya berasal dasri suara Bara, siapa yang tidak kenal Bara.. asisten dosen yang satu ini dikenal sebagai mahasiswa yang berkarisma, paras wajahnya yang manis selalu membuat para mahasiswi lainnya tergila-gilan padanya.. “oh.. iya sama-sama”. Kata Rafsya tanpa menoleh ke arah Bara.. “selamat juga deh IPK kamu paling tinggi tahun ini.” Kata Bara sambil mengulurkan tangannya ke tangan Rafsya. Tanpa basa-basi Rafsya mendekatkan kedua tangannya tanpa menjabat tangan Bara “Terimakasih banyak ya..” dengan tergesa-gesa Rafsya pergi meninggalkan Bara. Rafsya juga dikenal sebagai mahasiswi yang sangat taat dengan agama. Oleh karena itu Rafsya tidak menoleh dan melihat kehadapan Bara dan Rafsya juga tidak menjabat tangan Bara.
Siang hari nya di kantin, Bara yang diam-diam sering memperhatikan Rafsya mencoba menghampiri Rafsya yang sedang asyik dengan semangkuk bakso yang dimakannya.. sadar sedang diperhatikan oleh seseorang akhirnya Rafsya bergegas perfgi dari kantin. Bara merasa sangat bingung dengan tingkah laku Rafsya, satu hal yang Bara tidak tahu dari Rafsya adalah Rafsya tidak pernah mau dekat dengan lelaki selain dengan keluarganya. Bara tetap mengikuti jejak langkah Rafsya yang sedang menyusuri lorong demi lorong koridor kampus.. kecantikan hati Rafsya lah yang telah berhasil memikat hati Bara. Jangan bertanya tentang paras cantiknya, kesantunan akhlaknya, dan ibadahnya. Namun dengan kecantikan hati Rafsya lah Bara menjadi jatuh hati padanya. Satu demi satu semua kelakuan Rafsya selalu diperhatikan oleh Bara, hampir setiap pagi Bara meletakan setangkai mawar putih di loker tempat Rafsya menaruh barang-barangnya. Tanpa di kertahui Rafsya tentunya..
“Terus kejar mimpimu, sang penulis berhati malaikat. Dari aku yang mengagumimu”.. potongan kata yang ditemukan dalam lilitan setangkai mawar putih pagi ini yang dibaca oleh Rafysa. Rafsya memang sangat menyukai mawar putih, karena mawar putih dapat melambangkan kesucian, banyak tanda tanya yang terlontar dalam pikiran Rafsya.. “bunga dari siapa ya? Kenapa setiap pagi selalu ada mawar putih dengan kata-kata puitis seperti ini?”. Dari kejauhan Bara tersenyum manis melihat Rafsya yang sedang menghirup harum bunga mawar putih darinya. Bara selalu menyempatkan diri setiap paginya untuk membeli mawar putih dan diberikannya pada Rafsya. Namun Rafsya tidak pernah mengetahui tentang itu dan Bara pun tidak mau Rafsa tahu bahwa dirinyalah yang memberikan mawar putih setiap pagi di loker Rafsya.
Hari berganti hari, detak jam pun selalu berputar seiring berjalannya waktu, Rafsya tetap fokus dengan dunia menulisnya dan Bara juga tetap fokus dengan serentetan praktikum kedokterannya. Maklum saja, memasuki semester akhir kedua mahasiswa ini sibuk dengan skripsi yang mereka kerjakan. Namun itu semua tidak menghentikan kebiasaan Bara yang selalu meletakan mawar putih di loker Rafsya.. “siapapun yang memberikan ini, aku mau bilang terimakasih.. pasti orang yang memberikan ini hatinya secu sesuci mawar putih ini..” kata Rafsya sambil mengcium dan menghirup aroma mawar putih itu..
Hari berikutnya.. sengaja Rafsya melangkahkan kakinya lebih pagi dari biasanya, sengaja ia ingin mencari tahu tentang siapakah orang yang meletakan mawar putih di lokernya. Pukul 06.00 Rafsya sudah berada di kampus, tidak seperti biasanya.. Rafsya yang biasanya datang ke kampus saat mata kuliah berlangsung kini berada pagi-pagi buta hanya untuk menyelidiki seorang pengagum rahasianya yang selalu memberikan mawar putih, di waktu yang bersamaan Bara hari itu tidak meletakan mawar putih di loker tempat biasanya ia memberikan aroma indah mawar putih untuk Rafsya, gadis pujaannya.. Bara hari itu tidak datang ke kampus dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya...
Hampir sejam Rafsya duduk di pojok bangku taman dengan memasang wajah harap-harap cemas. Matanya mengelilingi seluk beluk lorong-lorong kampus dengan berharapan dapat mengetahui siapa orang yang selalu meletakan mawar putih beserta puisi-puisi indah di loker nya.. waktu terus berjalan.. tanpa dirasa sudah dua jam ia duduk ditempat yang sama, dengan pandangan yang sama, dan posisi duduk yang sesekali berpindah tempat, namun sayang.. orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, ia merasa sedikit kecewa karena tidak dapat mencari informasi tentang pengagum rahasianya.. dan ia pun memutuskan untuk beranjak dari bangku taman itu dengan seribu tanda tanya didalam hatinya.. “Ergggghhh.. kenapa gak keliatan sih orang itu? Tambah penasaran aja nihhhh!!!!!!”........
Seminggu berlalu, tanpa ada mawar putih dan sepucuk puisi di lokernya. Hati Rafsya makin bertanya-tanya dan ribuan tanda tanya mulai menghampiri malam-malam gadis ini. Entah dimana Bara saat itu, saat dimana Rafsya benar-benar menyimpan banyak tanya tentang si pengagum rahasianya. Dalam doa selalu ada potongan kalimat yang rutin diucapkan disela-sela doa nya.. “Ya Allah.. siapapun orang itu, pertemukan ku dengan dia. Andai aku bisa mengetahui siapa orang itu..” Rafsya memang gadis yang tidak pernah akrab dengan dunia cinta. Hari-hari nya dihabiskan dengan bertumpuk-tumpuk buku dan berlembar-lembar kertas mata kuliahnya. Dan memang Rafsya mempunyai tekad. “Sebelum toga sudah aku kenakan, aku tidak akan mau tahu apa itu cinta”..
Malam hari nya, saat Rafsya sedang teliti menyelesaikan tugas mata kuliah nya tiba-tiba ada suara yang memanggil ia dari arah depan rumahnya.. “Rafsya.. Rafsyaaaa...” seketika suara itu menghentikan goresan pena yang sedang dipegang oleh Rafsya, namun Rafsya tidak memperdulikan nya. dan dengan serius ia tetap pada pekerjaannya yang bertumpuk itu.. sampai akhirnya, Ibu Rafsya mengetuk pintu kamar Rafsya. “Sya.. ada tamu tuh. Nyariin kamu tuh dia”. Dengan langkah yang tetap ditemani oleh buku Rafsya pun bergegas membuka pintu kamar, “siapa,Bu? Malam-malam gini bertamu gak sopan banget sih..”. dengan sinis omongan itu terlontar dari bibir tipis Rafsya. “Hei.. apa kabar?..” suara itu.. suara yang selalu menggangu di telinga Rafsya, Bara.. ternyata Bara yang malam-malam berkunjung ke rumah Rafsya. “ngapain kamu kesini? Gak pernah di ajarin tata krama bertamu ya? Ini sudah malam..” ketus Rafsya. Mendengar itu Bara langsung merasakan miris. Entah apa yang dipikirkan oleh Rafsya, niat baik Bara ternyata disambut dengan kesinisan..
“Aduh.. omongan aku salah gak ya tadi itu, jadi ngerasa gak enak sama dia. Erghh.. biarin deh. Abisnya dia nyebelin..” celetuk Rafsya sambil menutup pintu kamarnya dan mematikan lampu disamping tempat tidurnya. Ditempat yang berlainan Bara pulang dengan membawa sebuah penyesalan. “Ampun deh.. dari sekian banyak cewek yang pernah gw deketin baru kali ini ada cewek yang galaknya ngelebihin macan. Gimana mau deket.. denger suara gw aja dia udah males”.. ucap Bara sambil mengacak-acak rambut.
Waktu terus berlalu, ribuan hari dilewati Bara dan Risya dengan kesendirian. Risya tetap tidak mengetahui siapa penggemar rahasia nya yang selalu rutin memberikan ribuan kejutan untuknya. Hingga akhirnya.. sesuatu kejadian membuat rahasia itu terbongkar. Pagi hari saat Bara menaruh setangkai mawah putih dan puisi di loker Risya. Risya datang....... sekejap keadaan menjadi hening. “Heh!!! Ternyata... ternyata lo yang setiap hari ngasih gw mawar putih? Ternyata tulisan tangan lo yang bikin gw penasaran selama ini???” tuduh Risya. Dengan tampang bingung.. Bara pun menjawab.. “ehmm.. heeehehe... iya.. iya gw yang naruh itu semua, gw yang kasih lo bunga mawar putih.. iya.. iya tulisan tangan gw yang ada di lembaran-lembara kertas puisi itu”............................................ Risya bingung.. keadaan canggung. Dan mereka saling bertatapan....

Kamis, 07 Februari 2013

Semu.

Diposting oleh Unknown di 21.46 0 komentar
Entah apa lagi yang harus aku tulis.. entah apa lagi yang harus aku ceritakan.. dan entah.. entah.. entah apa lagi yang dapat mendeskripsikan tentang dia.. God.. i like him. aku menyukai senyumnya.. matanya.. hidungnya.. tingkahnya.. dan aku menyukai hatinya.. Tuhan.. apa ini yang rasanya mengagumi? apa ini yang dinamakan menyukai? atau apakah ini yang namanya mencintai? walau aku tau.. aku tau dia bukan untukku, dia bukan dan tidak memilihku. aku tau dan aku sadar itu. aku tau aku tak berarti apapun dimata dia, aku hanya seorang bayangan yang mengikutin kemanapun dia pergi, tanpa aku bisa menyentuhnya dan berbicara pada nya..
Andai saja.. andai aku bisa membaca isi hatinya, mendengar jerit suara hatinya.. aku hanya ingin mengetahui siapa gadis yang berutung yang selalu ada di hatinya?.. andai aku bisa membaca isi fikirannya tanpa harus mencari tau semua tentang dia disetiap orang banyak.. ingin sekali aku mengetahui siapa gadis yang selama ini terkunci didalam fikirannya..
Tuhan.. bila dia untukku.. dekatkan kepadaku, Ya Tuhan.. dan andai dia bukan orang yang baik untukku.. jauhkan aku dengannya, buang semua rasa ini yang telah ku simpan selama ini untuknya. lenyapkan dia dari fikiranku, Ya Tuhan.. hapus dia dari setiap mimpi indah dalam malamku saat ku terjaga. andai.. kelak suatu saat nanti dia bukan untukku. ikhlaskan hatiku,Ya Tuhan.. karena aku tau, ada ataupun tidak adanya aku disisinya, aku hanya akan menjadi seorang bayang-bayang semu untuknya. sekarang.. esok.. lusa.. bahkan selamanya..

Sorot Pelangi

Diposting oleh Unknown di 06.21 0 komentar
Pagi yang seperti biasa, murid-murid melangkahkan kaki nya dengan senyuman lebar dipipi nya. Termasuk Rio, kapten basket sekolah yang banyak digandrungi oleh para wanita ini seperti biasa mengawali rutinitas nya bersama Ara, sahabat karib nya yang di kenal sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Rio dan Ara selalu melakukan hal bersama-sama, layaknya seorang kakak dengan adik nya mereka pun selalu berusaha untuk membuat sebuah semangat setiap hari nya dengan bersama-sama.
Rio yang dikenal sebagai kapten basket sekolah ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu menebarkan senyuman untuk semua orang, seperti pelangi.. sinar mata Rio mampu memancarkan aura positive bagi orang-orang yang melihat nya. Seorang siswa berprestasi ini mampu memikat semua wanita yang ada di sekolah. Tapi sayang, sejak dulu Rio tidak pernah mengerti apa itu “mencintai dan dicintai”. Sangat bertolak belakang dengan Ara, hampir semua wanita pernah menjadi tambatan hatinya. Tidak jauh beda dengan Rio.. paras wajah Ara juga mampu membuat wanita jatuh hati pada nya.
Hari-hari mereka penuh canda dan tawa, selalu ada lelucon dalam persahabatan mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Shilla.. gadis cantik dan baik hati ini datang di kehidupan mereka. Seakan mengubah hidup Rio, semenjak mengenal Shilla diam-diam Rio menyimpan rasa pada Shilla. Hanya Ara yang tahu semua cerita Rio tentang Shilla.
“Kapan nih lo mulai deketin Shilla? Hati-hati, sob! Keburu di gebet orang”.. celetuk Ara saat bel istirahat berbunyi. Jawab Rio dengan santai.. “ah! Lo kayak baru kenal gue sehari aja.. minder gue bos deketin cewek cantik kayak Shilla. lo tau sendiri gimana penyakit gue sekarang”. perdebatan mulai panas saat mereka membicarakan wanita ini, satu-satu nya wanita yang bisa membuat jantung Rio seakan berhenti berdetak saat dua mata mereka saling bertatapan.. “kapan lagi?!!! Ayolah tunjukin dan kejar cinta lo itu. Gue yakin lo bisa!”.
Waktu terus berputar, kalimat Ara selalu menjadi hantu dalam ingatan Rio..sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat Rio merasa tidak pantas untuk Shilla. faktor keluarga yang menjadi salah satu alasan kuat Rio, kurang lebih sudah dua tahun Ibu Rio menjadi single parent. Semenjak itu Rio berjanji hanya ingin membahagiakan wanita tercantik nya itu, yang menurutnyaadalah Ibu nya.
Alasan lain yang membuat Rio takut adalah Glioma, katagori besar kanker tumor premier yang berasal dari sel-sel glia. Jenis kanker yang dimulai dari otak atau tulang belakang. Rio adalah salah satu penderita kanker tulang belakang yang mungkin mempunyai presentase untuk dapat bertahan hidup hanyalah 50%. Walau awalnya merasa bahwa kanker tersebut adalah sebuah tamparan hebat yang membuat hidupnya sama sekali tidak memiliki arti lagi, Rio secara perlahan memulai mencoba untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan ketegaran dan besenang-senang dengan sahabatnya, Ara. Juga wanita yang di cintainya Shilla.
Ara selalu memotivasi dan meyakinkan Rio bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta Shilla. singkat cerita cahaya kehidupan Rio mulai hadir kembali, Shilla yang selama ini didambakan nya sudah menjadi kekasih nya. berkat Ara yang selalu meyakinkannya. “Tuh.. gue bilang juga apa! Lo tuh selalu deh jangan suka putus asa sebelum mencoba. Terbukti kan sekarang Shilla bisa lo dapetin!”. Ujar Ara sambil merangkul pundak sahabatnya itu. “Sekarang gue percaya kalau selama berusaha gue pasti bisa dapetin apa yang gue mau. Makasih banget nih,Sob! Gue coba buat nikmatin hidup gue ini.” Tegas Rio dengan penuh semangat.
Seminggu kemudian Rio datang menemui dokter yang rutin ditemui nya setiap minggu untuk mengetahui bagaimana perkembangan Glioma di tubuh Rio, seakan tersambar petir saat Rio mendengar diagnosa tentang penyakitnya yang diutarakan oleh dokter.. “sel kanker di tulang belakang kamu makin menebar, harapan hidup penderita glioma mungkin hanya 46,33 bulan dengan rentang waktu 38-55 bulan” ucap dokter.. semua hening, waktu terasa berhenti saat vonis itu di jatuhkan pada Rio. Tapi Rio tidak berhenti disitu saja. Ia lebih menikmati hidup nya mulai hari itu dengan Ara sahabat karib nya dan Shilla wanita yang di cintainya.
Kehadiran kanker dalam hidup Rio telah membuat hubungan antara dirinya dengan kekasihnya, Shilla dan Ibumya menjadi begitu terguncang. Di sisi lain penyakit kanker tersebut kemudian membawa Rio untuk mengenal beberapa karakter baru dalam kehidupannya yang mampu membuatnya lebih merasa bahagia atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.
“Promnight tinggal nunggu hari nih, kita jadi dateng bertiga Ara,kan?” tanya Shilla pada Rio. “jadi dong.. kita bertiga nanti bareng-bareng ya kesana.” Ujar Rio dengan semangatnya.
Malam itu pun datang, semua anak terlihat bahagia saat promnight. Malam ini bisa di sebut sebagai malam perpisahan karena seminggu lagi mereka akan mengadakan hari perpisahan dan kelulusan. Rio lulus dengan nilai yang memuaskan, peringkat pertama dapat diraih nya dalam Ujian Nasional tahun ini. Begitupun dengan Ara.. walaupun tidak sama dengan peringkat Rio, namun Ara mendapatkan universitas yang ia idamkan sejak dulu. Tidak ketinggalan denga Shilla, wanita yang di cintai Rio ini benar-benar lulus dengan hasil memuaskan juga di terima di salah satu universitas kedokteran.
“Hai semuanya..... gue mau ngomong sesuatu nih..”. tiba-tiba terdengar suara Rio yang berbicara di tengah kerumunan teman-temannya.. “gue itu sebenernya mengidap Glioma,lhoooo.. kanker tulang belakang dan udah akut banget.. hahahahaha” Rio mengutarakan kaliamat itu dengan nada lelucon dan tertawanya yang cukup keras. Dari sisi lain ada Ara yang menarik Rio dan berkata, “hahahaha lo semua kayak gak tau Rio aja, dia kan biasanya suka bercanda.”
...... Semua hening, antara percaya atau tidak namun semua teman-teman Rio sekejap merasakan khawatir, tidak lain adalah Shilla.. tersentak menangis saat mendengar kalimat Rio tadi. “Gila lo,Yo! Ngomong apasih lo barusan? Mau buat perhatian baru di sekolah?” Tanya Ara dengan sinis. Dan dengan lantang nya Rio menjawab, “gue Cuma bercanda kali, dan seenggak nya biar mereka nanti gak tanda tanya waktu ngeliat gue udah meninggal”. “heh ngomong apa sih lo?!!!” Tegas Ara.
Hari yang di tunggu-tunggu datang. Kelulusan itu sudah didepan mata. Semua siswa antusias dengan hari ini, entah apa yang istimewa hari ini.. tapi tetap saja bagi Rio hari ini masih seperti hari biasanya, tanpa ada yang istimewa kecuali hadir nya Shilla yang ada di sampingnya. Hari yang aneh.. tidak biasa-biasanya Rio memeluk Shilla dengan erat, “Shilla.. kamu harus jadi dokter. Kelak suatu saat nanti mungkin Cuma kamu satu-satu na dokter yang bisa sembuhin penyakit aku”. Kata-kata Rio yang membuat Shilla bertanda tanya.
Mala petaka itu datang, saat semua siswa bahagia mendapatkan kelulusan. Namun tidak untuk Rio.......... “Yo......bangun!!! Rio kenapaa?!!!!”. Suara teriakan itu datang dari belakang panggung. Ternyata Rio sudah terbaring di lantai, dengan darah yang menyelimuti hidung hingga setengah wajah Rio. Semua panik.. haru biru pun terasa di hari perpisahan ini. Semua darah penuh di setengah wajah Rio, bahkan mata itu.. mata yang mempunyai sorot seperti pelangi seakan redup, habis, dan mati tenggelam merah nya darah itu. Hari perpisahan yang mungkin tidak hanya untuk para siswa. Namun juga untuk Rio......
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2015

Seribu Burung Kertas

Tak terasa genap sudah seribu kertas warna-warni yang telah ku bentuk menjadi seribu burung yang kelak akan mengepakan sayapnya dan berterbangan membawa berjuta mimpi dalam angan. Aku cukup terkesan dengan mereka yang tak pernah lelah mendampingi ku ketika jemari ini melekuk-lekukan kertas warna-warni itu, terutama kamu.

Dengan sabar ku lekuk satu per satu kertas persegi itu, dengan sangat lembut ku jadikan secarik kertas itu menjadi seekor burung pelangi, bahkan jemari ini tak kuasa berhenti untuk sekedar beristirahat dalam lelahnya. Sayang, seribu burung kertas ini ku persembahkan untukmu.

Malam makin larut saat mata ku semakin tersudut dalam lamun panjang bersama beberapa burung yang telah ku selesaikan, ku panjatkan doa sejenak di satu persatu burung yang ku simpan di sebuah kotak abu, bukan doa untukmu,maaf. Namun doa untuk kita.

Denting gerimis mulai menemani malam ku, secangkir susu coklat pun menjadi saksi, kali ini bukan secangkir kopi yang biasa kau cicipi, maaf. Aku tak menyukai kopi seperti mu, aku juga bukan penikmat ampas kopi yang kau seruput diakhir kenikmatan sebuah kopi sepertimu.

Seribu burung kertas ini kian lama kian bertambah, ku hitung satu per satu burung kertas yang ada di dalam kotak yang ku simpan rapi di lemari hijau ku. Oh sayang, ketahuilah didalam lekukan burung kertas ini tersimpan banyak doa kecil yang ku goreskan melalui tinta biru ku.

Semoga seribu burung kertas ini mampu mewakili berbagai doa dan harapan yang ku gantungkan tinggi diangkasa untuk ayah dan ibu ku, untuk keluarga ku, untuk sahabatku, untuk hidupku, dan untuk hidupmu, juga hidup kita.

Salam seribu angan,
Aku yang mengagumi mu.

Minggu, 28 Juni 2015

Rintih abu di antara kabut kelabu

Kau tahu kini semua membisu
Membelenggu pada sebuah kain biru
Mungkin biru kini tak mampu lagi merayu
Atau sekedar menggebu diantara kelabu?

Wahai angin kau mampu membawa semua asa
Menembus dan membelah angkasa
Namun kini abu semakin menghilangkan rasa
Tanpa kata kau tak lagi membawa ku berdansa

Hingar- bingar ini seakan mengajak ku berlari
Menyelinap dalam kabut yang kau cari-cari
Ah, semua hanya membawa perih
Dalam sunyi ini aku merintih

*Sy.r

Senin, 04 Mei 2015

Berkata Tanpa Bicara

Mungkin kebanyakan orang masih belum terlalu tahu tentang "Screenwriter", baik dalam teknik penulisan nya ataupun tentang profesi itu sendiri, dan kebanyakan orang masih sering bertanya-tanya "Apa sih untung nya dari menulis?".

Well.. Menulis itu memang gampang, namun gak semua orang bisa menuangkan apa yang ada di pemikirannya lewat sebuah tulisan. Dan gue akuin semua orang juga pasti bisa nulis, yang jadi pertanyaan.. "Apakah tulisan lo itu bisa berguna buat sekeliling lo?"



Nah.. kali ini gue mau sedikit berbagi tentang beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan "Menulis"

Writer. Alias Penulis. tentu sudah banyak masyarakat awam yang mengetahui soal pekerjaan ini. ya.. tugasnya adalah penulis. biasanya dia adalah penulis individual yang bekerja sendiri dan tidak bekerja dalam tim serta berhubungan langsung dengan klien yang menyewa jasanya (penerbitan, Production House, stasiun TV atau agency).
Istilahnya juga banyak ada Screenwriter (penulis skenario TV/film), Scriptwriter (Penulis skenario TV/Film/Teater), Copywriter (Sebutan untuk penulis naskah Radio, Iklan, atau text)
(Btw, ini salah satu pekerjaan gue yang berasal dari "Hobi" lho.. ya terlepas dari pekerjaan,Hobi yang tersalurkan itu adalah pekerjaan yang paling nyaman untuk gue..)

Co-Writer. Alias asisten penulis. orang ini biasanya bergabung pada sebuah tim penulis yang di kepalai oleh seorang Head-Writer.

Head-Writer. Biasanya dia mengepalai sebuah tim penulis dan bertanggungjawab penuh atas hasil tulisan tim tersebut. orang ini biasanya berhubungan langsung dengan klien yang menyewa jasanya dan timnya.

Ghost-Writer. Bukan Hantu penulis yaaaa.. tapi ini adalah penulis bayangan. Kenapa seperti itu? Ya karena orang ini di sewa keterampilan menulisnya, dengan perjanjian bahwa nama si penulis ini tidak di publikasikan atau si penulis tidak berhak mengakui karya itu sebagai karyanya.
Kalau mau contoh mudah, tahun ini sempat ramai diberitakan soal seorang penulis yang mengaku karyanya di bajak oleh seorang penulis/wartawan sebuah media ternama. Sebenarnya diperjanjian awal, penulis ini sudah setuju menjadi ghost-writer. tapi belakangan.. karena permintaan ibunya, berubah pikiran deh ..

Editor/Script-Editor. Orang ini bukanlah penulis. tapi dia adalah editor dari sebuah karya yang sudah di buat oleh penulis. Fungsi Editor ini adalah untuk membaca, menelaah, dan memastikan bahwa karya dari si penulis ini memang layak untuk di produksi / di cetak dan pastinya di lempar ke pasaran..

Ngomong-ngomong tentang editor, editor ini bukan tugas yang gampang. Dan gue-pun kadang "angkat tangan" kalau beberapa teman gue minta tolong ke gue untuk jadi Script-Editor. Tugas dari editor ini tidaklah mudah. Dia tidak hanya sekedar membaca, Tapi kemudian dia juga harus bisa mendeteksi masalah, lalu memberikan solusi konkrit atas masalah tersebut.


"When I was really young I didn't know that there was such a thing as a screenwriter. I wrote stories." -John Sayles-

Kutipan kalimat itu yang belakangan ini sering gue baca, untuk gue sendiri menulis udah jadi bagian dari hidup gue (lebay nih tapi seriusan), terlepas dariitu semua, gue emang cinta pake banget sama semua yang berbau "tulisan". Gue mulai nulis itu semenjak gue masih pakai seragam putih merah, gue udah mulai nulis-nulis cerita kecil dan pada "Zaman"nya itu di publish di majalah B*O*BO. Berlanjut ke Putih Biru, gue dipilih menjadi ketua ekstrakurikuler jurnalistik, gue akuin disini kemampuan gue untuk menulis makin di asah lagi. Hingga akhirnya saat gue jadi siswi Putih Abu-abu, gue dipercayai menjadi seorang Screenwriter untuk ekstrakurikuler sinematografi, (INI AWAL MULA MINDSET GUE KEBUKA UNTUK MAKIN MAKIN MAKIN MAKIN CINTA SAMA DUNIA MENULIS) aduh apa sih gue...


"Write every day, line by line, page by page, hour by hour. Do this despite fear. For above all else, beyond imagination and skill, what the world asks of you is courage, courage to risk rejection, ridicule and failure. As you follow the quest for stories told with meaning and beauty, study thoughtfully but write boldly. Then, like the hero of the fable, your dance will dazzle the world." -Robert McKee


Kamis, 24 Oktober 2013

Rasa

Karena cinta menghadirkan rasa
Kicauan burung seakan membuatku menari, walau ku tahu hariini semua telah berbeda. Orang yang selalu menjadi alasan ku untuk tersenyum kini telah menghilang dari warna-warni kehidupanku. Aku layaknya seekor burung yang terpisah diantara ribuan burung lainnya, mencoba bertahan dalam ketidakpahaman dunia yang fana ini. Seakan tak bernyawa, aku memulai hidup ku tanpa kehangatan pelukan nya, senyumannya, dan tanpa suara nya yang selalu membuatku tersenyum saat aku tak menginginkan tersenyum sekalipun. Ternyata rasa adalah suatu hal yang membuatku seolah-oleh menjadi rintik hujan diantara matahari, membuatku seperti setangkai mawar yang mulai layu dan menghitam, menjadikan hatiku hancur hingga berkeping-keping tanpa penjelasan..
Hari pertama ku lalui tanpa semangat yang berarti, langkah kaki kecil ku pun seakan tak mampu lagi untuk berpijak. Langkah demi langkah ku jalani tanpa senyuman, walau mentari mengajak ku untuk menari namun aku tetap dengan paras wajah ku yang tak bertuan, oh Tuhan.. apa ini rasanya kehilangan?. “Ra.. Rara!!” suara itu terdengar jelas ditelinga ku, namun aku acuhkan. Aku benci suara itu. “Rara! Masih mau menghindar dari aku?” suara yang ku benci itu kian mendekat hingga aku merasakan sentuhan lembut tangannya menyentuh ku, aku berusaha untuk tidak melihatnya. Bahkan sekedar menoleh kehadapannya pun aku segan. “Maaf, aku tak bermaksud untuk menghindar. Aku butuh waktu untuk sendiri, mengertilah!” langkah ku semakin cepat meninggalkan dia dan menjauh darinya. sungguh teramat sungguh, aku tak mampu melihatnya dihadapanku begitu sesak dada ini melihatnya. Tanpa ku perdulikan lagi, aku pun membiarkan kaki ku mengajak untuk menjauhi nya walau ku tahu, keputusan yang telah ku ambil ini membuat dia kecewa, tapi.. sudahlah, aku yakin ini yang terbaik.  Hari demi hari semakin tak bergairah, aku mulai merasakan kejenuhan yang teramat mendalam dengan keadaan seperti ini, bagaimana tidak?.. Hari demi hari seakan begitu cepat, tanpa ku lalui lagi bersama orang itu. Walaupun ku tahu aku yang telah memutuskan untuk tak bersama nya lagi, namun kini aku menyadari bahwa aku merindukannya. Aku merindukan hadirnya, senyumnya, tawanya, candanya bahkan tangisan manja nya saat bersama ku dulu.
Malam menjadi lebih dingin semenjak hari itu, cuaca siang bahkan lebih panas dari biasanya, dan pagi semakin sunyi tanpa kicauan burung yang menemani. Ku hirup aroma kopi di cangkir merah jambu ku ini, diantara rintik hujan malam ini aku semakin merindukannya. Tiba-tiba handphone ku bergetar, ku lirik handphone ku dan ku dapati nama itu yang menghiasi layar handphone mungil berawarna merah ini. “Rara, aku merindukanmu.. aku butuh kamu disini, apa kamu juga merasakan apa yang ku rasakan? Bales dong, Ra. Sisihin waktu kamu sebentar buat bales sms aku ini. Aku sayang kamu.” Ingin sekali aku membalasnya, namun apa daya tangan tak sampai.. aku masih membisu membaca nya, “Aku juga merindukanmu, aku mencintaimu lebih dari yang kamu tau, Dam...” aku hanya mampu membalas pesan singkat nya dalam hati, berharap dia mampu mendengar apa yang ku ucapkan tadi. Tekad ku masih kuat, aku akan terus menjaga jarak dengan orang ini mungkin perlahan aku akan pergi dari kehidupannya. Puluhan pesan singkat datang dari nya tanpa satu balasan pun yang aku berikan, entahlah.. mungkin dia lebih kerasa dari batu karang hingga apapun yang ku lakukan padanya, dia tetap tak menghiraukannya dan tetap mencoba mendekatiku. Aku yakin dia masih menjadi salah satu orang yang dapat ku perjuangkan, tapi di balik itu semua aku masih menyimpan banyak rasa kecewa yang teramat mendalam padanya, aku ingin menghapusnya namun tetap tak bisa. Semua usaha yang dia tunjukan padaku tetap tak akan merubah keputusanku, aku menjahui nya.

“Apapun itu, setiap rasa yang menyakitkan, tak akan mampu membuat rasa yang menyenangkan seperti dulu..”

Sabtu, 20 Juli 2013

Berbeda.

Awal bulan yang begitu aneh untuk Raya, seorang gadis teledor dengan segala keulahannya. Semua berawal dari awal Mei kemarin, saat semua siswa lalu lalang dengan rutinitas nya disekolah dan dengan kesibukan mereka masing-masing dengan pelajarannya, tetapi tidak untuk Raya. Gadis ini tetap santai melangkahkan kaki nya ke seluruh sudut ruangan disekolahnya. Dengan antusias nya ia mengawali hari demi hari disekolah yang menurut ia lebih menyenangkan dari keadaan dirumahnya. Ya terang saja, keadaan dirumah nya tidak begitu menyenangkan seperti keadaan diluar rumahnya, terlebih disekolah. Raya sering dikenal sebagai gadis periang dan selalu menebarkan senyumannya kepada siapapun yang bertemu dengannya, tidak heran bila ia di senangi oleh teman-temannya. “Ray! Gw pinjem buku catetan matematika lo yang kemarin dong..”  terdengar suara Sheka yang berteriak dari ujung koridor tepat saat Raya sedang berjalan-jalan kecil dengan tumpukan buku yang digenggam ditangan kanannya, “Eh Ka.. aduh gw enggak bawa buku nya nih, besok aja deh gw kasih ke lo ya bukunya hehe”. Jawab Raya singkat. Percakapan itupun berakhir begitu saja dikarenakan Raya yang terburu-buru berjalan menuju kelasnya.
Raya memang selalu melakukan hal yang sama setiap hari disekolah, mulai dari berjalan-jalan kecil mengelilingi koridor sekolah, hingga berjalan ditengah lapangan hingga membuat beberapa kakak kelas memperhatikannya dengan tatapan sinis. Kenapa sih kakak kelas itu selalu ngeliatin gw dengan pandangan yang seolah-olah mau makan gw hidup-hidup? Salah apa gw.. Pikir Raya saat sekilas melihat tatapan mata Kak Marko. Ya begitulah Marko, lelaki angkuh ini memang selalu tidak menyukai bila ada junior nya yang berjalan ditengah lapangan dengan mimik muka seakan tidak mempunyai salah apapun. Entah apa alasan Marko tidak menyukai junior nya yang melewati tengah lapangan itu, mungkin bagi Marko seorang junior harus bisa menghargai para senior dan tentunya tidak lancang melewati tengah lapangan yang notabene adalah kawasan para senior untuk mengumpul atau sekedar melakukan olahraga kecil disetiap waktu istirahat atau sepulang sekolah.
Langkah demi langkah dilewati oleh Raya, setapak demi setapak jalanan lapangan itu dilewati oleh Raya. Pagi ini ia memang sangat berbeda, senyuman nya sangat terlihat bahagia, lesung pipit di pipi nya menjadi lebih ceria dari sebelumnya. Seakan tidak memperdulikan tatapan para senior pada dirinya, ia tetap berjalan hingga akhirnya jalannya sedikit berubah menjadi berlari-lari kecil ditengah lapangan. Tanpa sadar ia menabrak salah satu senior nya, Buuuk.. “Woy kalau jalan tuh jangan pake kaki aja, mata juga digunain dong!”, Kata si senior dengan sinisnya. Aduh sial kenapa juga gw harus tabrakan sama cowok gak jelas ini, Ya Tuhan... Raya mengenali suara itu, benar saja.. Marko yang berdiri tepat dihadapan Raya langsung melontarkan argumen-argumen pedas nya pagi itu “Tolong ya adik kelas yang super duper menebar pesona pagi ini ditengah lapangan, kalau jalan tuh mata nya jangan ditinggal. Pernah diajarin cara berjalan yang baik dan benar kan?” “Maaf kak, saya salah tadi jalan terlalu terburu-buru jadi enggak sadar kalau udah nabrak kakak” Ujar Raya dengan menundukan kepalanya seolah takut dengan kakak senior nya ini.
Pagi ini sepertinya terlalu berbeda bagi Raya. Mulai dari berangkat sekolah ia diantar oleh Ayah nya yang biasanya selalu sibuk dengan segala pekerjaannya, lalu dengan keadaan meja makan pagi ini yang sudah tertata rapih dengan menu sarapan yang sengaja di buat oleh Ibu nya yang selama ini selalu berangkat pagi sekali walau hanya sekedar menghadiri meeting dikantornya, lalu... Sheka, teman kelasnya yang selama ini selalu menyindirnya ini itu didepan guru matematika tiba-tiba memanggilnya dan berniat meminjam buku catatan matematika Raya, setelah itu.. Marko.. Huaaa ada apa pagi ini? Aneh. Semuanya aneh.. mimpi apa gw semalem yampun..
Mei, bulan yang sebelumnya selalu dianggap Raya sama saja dengan bulan-bulan yang lain, namun entah mengapa Mei tahun ini mungkin terasa berbeda, semenjak lelaki itu hadir dikehidupannya, Arla. Entah dari mana datang nya makhluk ajaib ini dikehidupan Raya, semua mungkin terasa biasa saja sebelum akhirnya Raya mengenal Arla dari salah satu teman nya saat acara sekolah minggu lalu. Hari ini tambah lagi keanehan yang ditemui Raya, Arla dengan mimik muka cemas memperhatikan Raya yang semakin mendekati ruang kelasnya. “Ray, lo enggak kenapa-kenapa kan? Diapain lo sama si Marko?” . “Eh, Ar.. enggak gw gak diapa-apain kok, gw nya aja yang salah tadi nabrak dia yang segede papan tulis.. hehe, loh.. kok lo bisa tau? Pasti lo ngeliatin gw ya dari tadi? Hayo ngaku...” . Perbincangan singkat itu mulai berubah menjadi ajang saling ledek satu sama lain,
Entahlah.. semenjak mengenal Raya minggu lalu Arla menjadi merasa mengenal Raya lebih lama dari pertemuan pertamanya. Hari ke hari Arla selalu memperhatikan setiap tingkah laku Raya.. “Nih cewek yang waktu itu mau gw kenalin ke lo, Ar” ucap Rangga disela-sela acara sekolah malam itu “Hai.. Gw Arla, lo Raya anak IPA 1 kan?”.. “Wah.. ternyata lo tau gw kelas berapa.. hehe iya gw Raya, salam kenal deh ya”.. seperti itulah pertemuan Raya dan Arla untuk pertama kalinya, di acara sekolah minggu lalu. Raya yang mengenakan dress warna biru terlihat lebih cantik dengan kepangan yang menghiasi rambut hitam panjangnya.
Singkat, padat, dan berkesan.. itulah kesan pertama saat mengenal Raya, semakin membuat Arla merasakan hal yang tak biasa saat didekat Raya. Mungkin sama hal nya dengan Raya. Semenjak masa orientasi siswa awal pelajaran tahun lalu Raya memang sudah sering memperhatikan Arla, Arla adalah salah satu teman nya saat masa orientasi siswa tahun lalu. Tahun berganti tahun ternyata Arla dan Raya tidak ditakdirkan untuk mengenal lebih dekat. Hingga akhirnya saat acara minggu lalu mereka baru dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa mereka lupakan. Sejak malam itu kedekatan mereka berdua makin akrab, hanya sekedar menanyakan kabar Raya lewat pesan singkat bahkan Arla hanyak ingin sekedar mendengar suara Raya di ujung telepon setiap malam selalu dilakukan nya. Dunia Raya seakan penuh warna saat Arla datang di kehidupannya dengan membawa secerca harapan.mungkin hanya detak jam yang menjadi saksi Raya dan Arla setiap malam. Hidup mereka seakan berubah menjadi pelangi.
Semuanya beda, gw enggak pernah ngerasain hal ini sebelumnya.. saat dimana gw takut kehilangan seseorang yang jelas-jelas bukan milik gw. Takut kehilangan senyuman seseorang yang jelas-jelas enggak pernah gw kenal sebelumnya. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Semenjak kenal sama dia gw ngerasa hidup gw gak abu-abu lagi, gw ngerasa hidup gw penuh warna. Lebih dari pelangi sekalipun.
“Rayaa.. kemana aja sih lo dateng telat mulu! Pelajaran pertama matematika, hih lo mau dihukum beresin koridor siswa IPS lagi?..” tegur Arla saat melihat Raya berjalan memasuki kelasnya dengan memengang kepalanya dengan wajah pucat pasi. “Iyee.. apa sih, Ar.. jangn bawel deh! Gw itu telat bangun mangkanya baru dateng jam segini”.. “Lo sakit, Ray? Pucet banget muka lo kayak kambing belum dibedakin?”.... Raya tidak membalas ledekan Arla pagi itu, ia merasakan tubuhnya serasa lemah dan mata nya serasa berputar-putar. Melihat itu, Arla mendadak khawatir dengan Raya hingga akhirnya secara diam-diam ia mengikuti Raya kemanapun Raya pergi.
Bruuuk.. “Rayaaa!!!!”. Arla berlari dari ruang guru menuju toilet wanita di bawah tangga, ia mendapati Raya sedang tergeletak tak berdaya dengan keadaan tubuh yang menggigil namun demam tinggi. Segera Arla membawa Raya ke ruang UKS dan Raya beristirahat dengan ditemani oleh Arla. “Ar.. lo ngapain disini? Kok gw ada di UKS?” Kata Raya sambil memegangi kepalanya. “Akhirnya lo sadar juga.. lo tadi tuh pingsan di depan toilet, udah sarapan belum sih? Lo lagi sakit?”. Raya tidak menjawab pertanyaan Arla satupun, yang ia tahu kini ia merasa tubuhnya diantara es yang sangat dingin, menggigil.
Keesokan harinya, Raya memutuskan untuk memeriksakan kesehatannya kerumah sakit. “Hai Raya, sudah lama tidak bertemu ternyata kamu sudah bersar ya sekarang”.. ujar Dokter Bima, Dokter Bima adalah salah satu Dokter yang menangani keluarga Raya yang sedang sakit. “Ada apa, Ray? Tumben kamu kesini..” Lanjut Dokter Bima. “Hehe iya dong Raya kan udah remaja sekarang, bukan anak kecil lagi.. ini, Dok. Akhir-akhir ini Raya sering kecapekan, pusing tapi hanya dibagian kiri dan sering pingsan mendadak”.. “Wah, mungkin kamu kecapekan? Ayo kita periksa dulu”. Dokter Bima mengeluarkan stetoskop dan alat tensi darah dari tas nya. ia memeriksa Raya dengan teliti dan Raya mengikuti semua penjelasan dari Dokter Bima. Tidak lama setelah itu, pemeriksaan Raya pun selesai, Dokter Bima mengambil kertas hasil pemeriksaan. “Hasilnya baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin kamu hanya kecapekan. Ini saya beri vitamin ya, namun hasil cek darah kamu baru bisa diambil mungkin 3 hari lagi..” “Oke Pak Dokter, semoga aja enggak ada apa-apa ya, kasih tau Raya kalau hasilnya udah bisa diambil ya.”
Sudah dua hari ini Raya tidak masuk sekolah. “Raya sakit, kemarin supir nya titipin surat izin ke gw nih” Ujar Sheka saat Arla menanyakan kabar Raya kepada Sheka. Hingga akhirnya sepulang sekolah Arla memutuskan untuk menjenguk Raya di rumahnya, benar saja.. Raya terlihat pucat dan sangat lemas berbaring ditempat tidur nya. melihat kedatangan Arla, Raya langsung memperlihatkan wajah yang ceria. “Aaaarr... akhirnya lo kangen gw juga, hahaha dateng juga kan lo jenguk gw.”.. “Aduh yampun pede banget lo, siapa juga yang kangen.. gw cuma heran aja kambing enggak dibedakin kayak lo dua hari ini kenapa gak masuk? Sakit lo belum sembuh?”. Raya langsung memukul Arla dengan boneka sapi nya. “Duh.. sakit tau!!”.. “Yeeh siapa suruh lo ngeledekin gw kayak gitu? Cantik kayak gini masa disamain sama kambing yang enggak dibedakin? Jahat!”. “Jangan manyun gitu dong, kan gw Cuma nanya..” kata Arla sambil mengelus-elus rambut panjang Raya. “Iya nih, gw masih gak enak badan.. lemes banget”..
Canda tawa antara mereka sangat lepas, hingga akhirnya Reyka kakak Raya memanggil Raya, “Ray.. ada telepon dari Dokter Bima nih, katanya penting”. Raya langsung sigap berlari menuruni anak tangga dan menerima telepon dari Dokter Bima “Raya kamu bisa kerumah sakit sekarang? Ini sangat penting.” Saat Dokter Bima berbicara seperti itu, perasaan Raya mendadak panik dan takut.. “Baik, Dok. Raya segera kerumah sakit”. Raya berlari menuju kamar nya, diambilnya tas biru awan yang digantung dibelakang pintu. “Lo mau kemana? Buru-buru banget?” Tanya Arla heran. “Jangan banyak tanya deh lo. Mending lo anterin gw sekarang kerumah sakit” Kata Raya dengan panik. Arla langsung menuruti kata-kata Raya dan mengantar nya kerumah sakit dengan menggunakan motor nya..
“Gimana hasil nya, Dok? Raya sehat-sehat aja kan?” Tanya Raya dengan mimik wajah yakin dan menatap Dokter Bima dengan pandangan yang tak seperti biasanya. “Saya juga tidak percaya dengan hasil test ini, sudah 3 kali diulang namun hasilnya tetap sama, kamu positive mengidap radang selaput otak stadium lanjut. Radang ini menyebar sangat cepat, perkembangannya melesat tinggi setiap 3 hari sekali. Maaf Raya, kamu harus melakukan perawatan lebih lanjut.”..
Demi dunia dan segala isinya, ini semua bagai petir ditengah hujan badai yang menggelegar diantara telingaku. Aku merasalumpuh seketika, bagaimana mungkin aku yang selama ini terlihat sangat sehat ternyata mengidap radang selaput otak stadium lanjut? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis penderita penyakit seserius ini? Bagaimana bisa aku menjadi seorang gadis yang divonis tidak akan lama lagi untuk bertahan hidup?
Arla yang sejak tadi menemani Raya didalam ruangan Dokter Bima sekejap menjadi kaku, ia merasakan sambaran arus listrik yang kuat menyambar susunan saraf otaknya. Arla tidak percaya dengan hasil test tersebut, ia bersihkeras menayakan penyakit itu pada Dokter Bima, “Dokter pasti salah! Enggak mungkin Raya sakit kayak gini! Raya sehat!”.. isak tangis memenuhi ruangan putih tersebut, Arla memeluk Raya dengan kuat dan Raya semakin larut dalam tangisannya. Ia merasa hidupnya hancur, sebuah penyakit gini hinggap didalam tubuh nya dan tidak lama akan menggerogoti semua sistem dalam tubuhnya..
Tuhan.. bila ini kehendakmu, mengapa harus gadis ini yang menderita penyakit seserius ini? Mengapa bukan aku saja? Tuhan.. aku mencintainya,jangan biarkan tubuh lemah nya lama-lama habis dengan penyakit aneh itu. Sembuhkan Raya...
Hari ke hari kondisi tubuh Raya sangat memperihatinkan, Raya sudah tidak diperbolehkan sekolah mengingat kondisi nya yang tak sekuat dulu lagi, Arla masih setia menemani Raya setiap hari dan Raya pun tidak merasa pesimis dengan penyakitnya. Mereka masih seperti dulu, masih sama dan tak pernah berubah walaupun mereka masih belum mengutarakan perasaan nya masing-masing, namun mereka mengetahui bahwa mereka saling mencintai. “Ray, mungkin gw terlalu lama ngomong ini ke lo, tapi maaf gw baru bisa berani ngomong ini ke lo sekarang” Tutur Arla disela-sela canda tawa nya bersama Raya. “Halaah sok-sok serius deh lo, ngomong apasih emangnya?”.. “Kita kenal udah lama, Ray. Gw gak tau rasa ini ada sejak kapan. Tapi gw sayang lo, Ray! Gw mau jadi orang yang bisa jagain lo sampe kapanpun”...
Semenjak hari itu, Raya semakin kuat melawan penyakitnya. Karena Arla.. lelaki yang menjadi motivasi nya untuk bertahan hidup, menjadi alasan nya untuk tetap bernafas dan membuka matanya. Empat bulan terakhir dilalui Raya dengan ribuan senyum dan bahagia. Begitupun dengan Arla, ia menjaga Raya dengan sepenuh hati dan berharap gadis yang dicintainya ini dapat bertahan hidup hingga seribu tahun lagi. Namun takdir berkata lain.. akhir tahun lalu Raya menghembuskan nafas terakhirnya, ternyata penyakit ganas itu tetap menjadi pemenang. Raya menghabiskan detik akhir hidupnya tetap bersama Arla dan keluarga nya. awalnya Arla dan keluarga tidak dapat menerima kepergian Raya, namun mereka tetap berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian Raya.
Arla..
Hari ini tugasku sudah selesai..
Aku harus pergi, bukan pergi meninggalkanmu..
Namun hanya sekedar pergi dari nyata nya kehidupanmu..
Hingga akhirnya, mungkin nanti kita akan bersama kembali..
Ditempat yang baru, bahkan dikehidupan yang baru..
Aku masih bisa merasakan indahnya senyummu, candamu, bahkan tawamu..
Terimakasih sudah menjadi alasan ku untuk tetap bertahan hidup..

Dariku yang mencintaimu, Raya

Senin, 25 Maret 2013

When love was speechless..


Pagi sendu, mendung.. bagai awan tak ingin menunjukan dirinya pada matahari, memperlambat langkah Rafsya, seorang mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta, gadis yang sedang merantau dan jauh dari keluarganya ini sangat berambisi menjadi seorang penulis. Walaupun kedua orang tua nya tidak pernah mendukung mimpi gadis ini, namun itu semua tidak pernah menghentikan langkah kakinya untuk mencapai semua keinginannya. Pagi ini masih seperti biasa.. hanya secangkir kopi hangat dan suara burung yang menemani hari-hari Rafsya. Gadis ini dikenal sebagai gadis mandiri, saking mandiri nya.. ia kadang dijuluki “Gadis Anti Sosial”, tidak pernah aktif dalam organisasi apapun dan seorang gadis yang susah berbaur dengan lingkungan sekitarnya, seorang gadis yang tidak bisa cepat memposisikan dirinya dalam lingkungannya sebagai mahasiswi. Namun Rafsya dikenal sebagai mahasiswi terbaik tahun ini.. pantas saja Rafsya dikenal sebagai mahasiswa yang pandai, IPK ia tahun ini menjadi sorotan para mahasiswa lainnya, mendapatkan 3.99 adalah salah satu mimpi para mahasiswa lainnya dan Rafsa lah yang berhasil mendapatkan itu..
“Hei.. Kamu Rafsya ya?”.. seketika terdengar alunan suara dari lorong kelas sebelah, Rafsya yang dikenal gadis jutek itu tidak menanggapi suara tersebut, ia tetap fokus dengan novelnya dan setumpuk buku yang digenggamnya.. “Hei.. Halo.. Kamu Rafsya, kan?” lagi-lagi suara itu terdengar, bahkan sekarang suara itu lebih jelas ditelinga Rafysa. “Hmm.. Hai.. iya aku Rafsya, maaf kamu siapa ya?” Ucap Rafsya dengan suara sinis sambil kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya. “Aku.. Aku Bara. Salam kenal ya..”. ternyata suara yang menyapa Rafsya berasal dasri suara Bara, siapa yang tidak kenal Bara.. asisten dosen yang satu ini dikenal sebagai mahasiswa yang berkarisma, paras wajahnya yang manis selalu membuat para mahasiswi lainnya tergila-gilan padanya.. “oh.. iya sama-sama”. Kata Rafsya tanpa menoleh ke arah Bara.. “selamat juga deh IPK kamu paling tinggi tahun ini.” Kata Bara sambil mengulurkan tangannya ke tangan Rafsya. Tanpa basa-basi Rafsya mendekatkan kedua tangannya tanpa menjabat tangan Bara “Terimakasih banyak ya..” dengan tergesa-gesa Rafsya pergi meninggalkan Bara. Rafsya juga dikenal sebagai mahasiswi yang sangat taat dengan agama. Oleh karena itu Rafsya tidak menoleh dan melihat kehadapan Bara dan Rafsya juga tidak menjabat tangan Bara.
Siang hari nya di kantin, Bara yang diam-diam sering memperhatikan Rafsya mencoba menghampiri Rafsya yang sedang asyik dengan semangkuk bakso yang dimakannya.. sadar sedang diperhatikan oleh seseorang akhirnya Rafsya bergegas perfgi dari kantin. Bara merasa sangat bingung dengan tingkah laku Rafsya, satu hal yang Bara tidak tahu dari Rafsya adalah Rafsya tidak pernah mau dekat dengan lelaki selain dengan keluarganya. Bara tetap mengikuti jejak langkah Rafsya yang sedang menyusuri lorong demi lorong koridor kampus.. kecantikan hati Rafsya lah yang telah berhasil memikat hati Bara. Jangan bertanya tentang paras cantiknya, kesantunan akhlaknya, dan ibadahnya. Namun dengan kecantikan hati Rafsya lah Bara menjadi jatuh hati padanya. Satu demi satu semua kelakuan Rafsya selalu diperhatikan oleh Bara, hampir setiap pagi Bara meletakan setangkai mawar putih di loker tempat Rafsya menaruh barang-barangnya. Tanpa di kertahui Rafsya tentunya..
“Terus kejar mimpimu, sang penulis berhati malaikat. Dari aku yang mengagumimu”.. potongan kata yang ditemukan dalam lilitan setangkai mawar putih pagi ini yang dibaca oleh Rafysa. Rafsya memang sangat menyukai mawar putih, karena mawar putih dapat melambangkan kesucian, banyak tanda tanya yang terlontar dalam pikiran Rafsya.. “bunga dari siapa ya? Kenapa setiap pagi selalu ada mawar putih dengan kata-kata puitis seperti ini?”. Dari kejauhan Bara tersenyum manis melihat Rafsya yang sedang menghirup harum bunga mawar putih darinya. Bara selalu menyempatkan diri setiap paginya untuk membeli mawar putih dan diberikannya pada Rafsya. Namun Rafsya tidak pernah mengetahui tentang itu dan Bara pun tidak mau Rafsa tahu bahwa dirinyalah yang memberikan mawar putih setiap pagi di loker Rafsya.
Hari berganti hari, detak jam pun selalu berputar seiring berjalannya waktu, Rafsya tetap fokus dengan dunia menulisnya dan Bara juga tetap fokus dengan serentetan praktikum kedokterannya. Maklum saja, memasuki semester akhir kedua mahasiswa ini sibuk dengan skripsi yang mereka kerjakan. Namun itu semua tidak menghentikan kebiasaan Bara yang selalu meletakan mawar putih di loker Rafsya.. “siapapun yang memberikan ini, aku mau bilang terimakasih.. pasti orang yang memberikan ini hatinya secu sesuci mawar putih ini..” kata Rafsya sambil mengcium dan menghirup aroma mawar putih itu..
Hari berikutnya.. sengaja Rafsya melangkahkan kakinya lebih pagi dari biasanya, sengaja ia ingin mencari tahu tentang siapakah orang yang meletakan mawar putih di lokernya. Pukul 06.00 Rafsya sudah berada di kampus, tidak seperti biasanya.. Rafsya yang biasanya datang ke kampus saat mata kuliah berlangsung kini berada pagi-pagi buta hanya untuk menyelidiki seorang pengagum rahasianya yang selalu memberikan mawar putih, di waktu yang bersamaan Bara hari itu tidak meletakan mawar putih di loker tempat biasanya ia memberikan aroma indah mawar putih untuk Rafsya, gadis pujaannya.. Bara hari itu tidak datang ke kampus dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya...
Hampir sejam Rafsya duduk di pojok bangku taman dengan memasang wajah harap-harap cemas. Matanya mengelilingi seluk beluk lorong-lorong kampus dengan berharapan dapat mengetahui siapa orang yang selalu meletakan mawar putih beserta puisi-puisi indah di loker nya.. waktu terus berjalan.. tanpa dirasa sudah dua jam ia duduk ditempat yang sama, dengan pandangan yang sama, dan posisi duduk yang sesekali berpindah tempat, namun sayang.. orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, ia merasa sedikit kecewa karena tidak dapat mencari informasi tentang pengagum rahasianya.. dan ia pun memutuskan untuk beranjak dari bangku taman itu dengan seribu tanda tanya didalam hatinya.. “Ergggghhh.. kenapa gak keliatan sih orang itu? Tambah penasaran aja nihhhh!!!!!!”........
Seminggu berlalu, tanpa ada mawar putih dan sepucuk puisi di lokernya. Hati Rafsya makin bertanya-tanya dan ribuan tanda tanya mulai menghampiri malam-malam gadis ini. Entah dimana Bara saat itu, saat dimana Rafsya benar-benar menyimpan banyak tanya tentang si pengagum rahasianya. Dalam doa selalu ada potongan kalimat yang rutin diucapkan disela-sela doa nya.. “Ya Allah.. siapapun orang itu, pertemukan ku dengan dia. Andai aku bisa mengetahui siapa orang itu..” Rafsya memang gadis yang tidak pernah akrab dengan dunia cinta. Hari-hari nya dihabiskan dengan bertumpuk-tumpuk buku dan berlembar-lembar kertas mata kuliahnya. Dan memang Rafsya mempunyai tekad. “Sebelum toga sudah aku kenakan, aku tidak akan mau tahu apa itu cinta”..
Malam hari nya, saat Rafsya sedang teliti menyelesaikan tugas mata kuliah nya tiba-tiba ada suara yang memanggil ia dari arah depan rumahnya.. “Rafsya.. Rafsyaaaa...” seketika suara itu menghentikan goresan pena yang sedang dipegang oleh Rafsya, namun Rafsya tidak memperdulikan nya. dan dengan serius ia tetap pada pekerjaannya yang bertumpuk itu.. sampai akhirnya, Ibu Rafsya mengetuk pintu kamar Rafsya. “Sya.. ada tamu tuh. Nyariin kamu tuh dia”. Dengan langkah yang tetap ditemani oleh buku Rafsya pun bergegas membuka pintu kamar, “siapa,Bu? Malam-malam gini bertamu gak sopan banget sih..”. dengan sinis omongan itu terlontar dari bibir tipis Rafsya. “Hei.. apa kabar?..” suara itu.. suara yang selalu menggangu di telinga Rafsya, Bara.. ternyata Bara yang malam-malam berkunjung ke rumah Rafsya. “ngapain kamu kesini? Gak pernah di ajarin tata krama bertamu ya? Ini sudah malam..” ketus Rafsya. Mendengar itu Bara langsung merasakan miris. Entah apa yang dipikirkan oleh Rafsya, niat baik Bara ternyata disambut dengan kesinisan..
“Aduh.. omongan aku salah gak ya tadi itu, jadi ngerasa gak enak sama dia. Erghh.. biarin deh. Abisnya dia nyebelin..” celetuk Rafsya sambil menutup pintu kamarnya dan mematikan lampu disamping tempat tidurnya. Ditempat yang berlainan Bara pulang dengan membawa sebuah penyesalan. “Ampun deh.. dari sekian banyak cewek yang pernah gw deketin baru kali ini ada cewek yang galaknya ngelebihin macan. Gimana mau deket.. denger suara gw aja dia udah males”.. ucap Bara sambil mengacak-acak rambut..
Hari berganti hari.. kedekatan mereka yang awalnya selalu tidak akur lama kelamaan mulai membaik, hingga akhirnya Bara memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya yang selama ini sudah dipendam, bagai seekor kupu-kupu yang hinggap di bunga, seperti itulah yang dirasakan Bara sekarang. Gadis cantik yang selama ini ia puja dan ia banggakan ternyata juga diam-diam menyimpan perasaan yang sama. Hingga singkat cerita akhirnya Rafsya menerima Bara untuk menjadi kekasihnya...

Kamis, 07 Maret 2013

Dava


Hari ini tepat dua tahun setelah kepergian Dava, lelaki yang kurang lebih 5 tahun telah menyempurnakan hari-hari Aya. Lelaki yang selalu dikagumi oleh Aya ini memang sudah menghembuskan nafas terakhirnya karena salah satu kecelakaan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Seperti biasa.. Aya selalu menghabiskan pergantian tahun dengan Dava, walaupun 2 tahun belakangan ini ia harus rela menghabiskan sisa tahun di depan makan Dava..
Kurang lebih 5 tahun yang lalu kisah cinta dua manusia ini dimulai. Dava seorang lelaki super jutek yang dikenal sebagai ketua osis ini berhasil memikat hari Aya, gadis angkuh yang disegani teman-temannya, dikenal sebagai gadis cerdas disegala bidang. Awal mula pertemuan mereka disebuah gedung saat Aya sedang melakukan hobby nya yaitu sebagai fotografer. Kegiatan ini memang tekun dilakukan Aya setiap petang hari penghabisan matahari. Dava yang saat itu memang selalu mengunjungi gedung tua disalah satu tempat di Bandung dengan membawa kanvas dan peralatan lukis lainnya. Seorang seniman yang diam-diam mengagumi seluruh isi bumi ini tanpa sengaja melukis seorang gadis yang sedang serius dengan kameranya. Warna demi warna di campurkan didalam kanvas putih nya, hingga akhirnya terlukislah seorang gadis cantik berambut panjang terurai dengan sebuah kamera yang dipegangnya.
Hari berikutnya mereka dipertemukan lagi, walau masih tanpa komunikasi, Dava masih memandangi Aya dari jarak kejauhan. Mencoba melukis tanpa harus diketahui oleh Aya, dan Aya pun masih belum sadar bila belakangan ini ternyata ada salah satu lelaki yang diam-diam memperhatikannya. Waktu terus berganti, hari terus berlalu dengan aktivitas yang masih sama. Aya yang sibuk dengan dunia foto nya dan Dava yang selalu sibuk melukis Aya dari jarak kejauhan. Entah sudah berapa puluh wajah Aya yang dilukis oleh Dava. Dan ternyata diam-diam Dava mulai menyukai Aya, tanpa ia tahu bahwa sebenarnya Aya adalah salah satu siswi disekolahnya.
Awal Senin seperti biasa, beberapa siswa mungkin mempunyai pemikiran bahwa “Monday is Mon(ster)Day”. Namun tidak untuk Aya. Gadis ini selalu bersyukur setiap hari nya, tanpa perduli masalah apa yang akan didapatkan nya di hari itu. Pagi ini dengan antusias nya ia memulai langkahnya disekolah. Tetap dengan kamera yang selalu dibawanya didalam tas dengan tumpukan buku yang dipegangnya dengan erat. Dengan topi dan dasi yang masih acak-acakan, tak tertinggal sebuah ikat pinggang yang telah dikenakannya namun terbalik...
*brakkk* buku-buku yang ada di tangan Aya tiba-tiba jatuh karena sebuah keteledoran seorang lelaki yang menabraknya, “Aduuuhh!! Gimana sih kalau jalan lihat-lihat donggg!!” ucap Aya dengan nada agak kesal. “Yampun maaf.. maaf gw nggak sengaja.” Suara ini ternyata berasal dari suara Dava. Dava yang dengan buru-buru membantu Aya untuk membereskan buku-buku yang tercecer dilantai. “Besok-besok kalau jalan jangan pake kaki aja ya, mata dipake juga” Kata Aya dengan sinis sambil meninggalkan Dava. “Gila! Cewek cantik kayak dia ternyata sinis kayak gitu. Gw kira..... ahh udahlah gak penting juga” ucap Dava dalam hati.
Gadis yang selama ini menjadi model dalam kanvas-kanvas Dava ternyata adalah seorang gadis yang angkuh. Awalnya Dava memang berusaha untuk melupakan puluhan lukisan tentang Aya, ternyata tidak bisa. Semakin keras ia mencoba melupakan, semakin keras pula ingatannya tentang Aya.  Ternyata mencoba melupakan gadis ini adalah salah satu hal yang menyulitkan untu Dava, hingga akhirnya Dava memutuskan utnuk mencari tahu lebih banyak tentang Aya.
Ternyata hampir satu bulan Dava mencari tahu semua informasi tentang Aya. Diam-diam ia menuruhsimpati pada Aya, diam-diam ia mengagumi Aya, diam-diam ia menyukai Aya, dan mungkin ia mencintai Aya secara diam-diam. Salah satu sahabat Aya memberitahu pada Aya bila Dava selalu mencari tahu tentang Aya. Namun respon Aya masih sama, flat. Gadis ini memang dikenal belum bisa membuka hatinya pada siapapun semenjak duduk dibangku 10. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang membuat Aya dekat dengan Dava. Sekolah mereka mengadakan lomba fotografi, hingga akhirnya Aya mengikuti lomba tersebut, dan mulai sejak inilah kedekatan mereka dimulai.
“Lo ikut lomba juga?” Tanya Dava. Ternyata ketua panita lomba itu adalah Dava, lelaki yang disegani Aya sejak kejadian di koridor sekolah minggu lalu. “Iya, kenapa? Semua siswa berhak ikut kan?” Tegas Aya dengan sedikit keras. Suasana hening, sapaan Dava ternyata tetap dibalas dengan ketus oleh Aya. Namun Dava idak memperdulikan itu, ia tetap membimbing Aya selama lomba itu berlangsung. Singkat cerita Aya lah yang memenangkan lomba fotografi itu, memang bukan isapan jempol belaka semua jepretan Aya terpampang di mading sekolah.
“Hei.. selamat ya!” Ucap Dava sambil menjulurkan tangannya pada Aya, “Oke.. thanks lhooo udah bantuin gw juga. Hehe” kata Risya sambil tersenyum, ini kali pertama Dava melihat Aya tersenyum untuknya, ada rasa yang tak biasa saat mereka saling sejabat tangan dan bertatapan. Seakan waktu berhenti berdetak. Hingga akhirnya.. singkat cerita mereka memutuskan untuk bersama, walaupun awal mula hubungan mereka agak sedikit hambar. Karena Aya adalah sosok gadis yang lumayan kaku dengan lelaki. Namun itu semua tidak menjadi penghambat bagi hubungan mereka. Malah justru menjadi sebuah pengerat terselubung didalam hubungan mereka itu.
hari-hari mereka begitu indah, dengan atau tidak ada nya salah satu dari mereka tetap menjadi pelenggap didalam hubungan yang harmonis ini. Hingga suatu ketika keadaan yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka terjadi. Malam itu, tepatnya malam dimana pergantian umur Aya. Dava yang bertujuan untuk menemui Aya pada malam itu mengalami suatu kecelakaan yang merenggut nyawanya. Mobil yang ditumpanginya ditabrak oleh salah satu truck dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang dimimpikan mereka berdua saat kisah cinta mereka akhirnya berakhir dengan suatu kejadian tragis. Awalnya Dava hanya mengalami pendarahan di kepala yang menyebabkan penyumbatan otak. Namun Tuhan berkata lain.. Dava akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya dimalam yang harusnya menjadi malam teristimewa bagi Aya. Aya yang dengan rasa bersalah karena selalu menyia-nyiakan waktu Dava saat bersamanya sangat terpukul dengan kepergian Dava..

By: Syr.

Senin, 25 Februari 2013

Burung Kertas

Pagi mendung dengan milyaran rintik hujan yang turun dari langit. Sherly.. begitu ia di kenal, seorang gadis yang masih duduk dibangku kelas 12 SMA ini dikenal sebagai gadis periang dan sangat disukai teman-temannya karena keramahannya. hari ini seperti biasa Sherly memulai langkahnya dengan sebuah senyuman riang yang dibawa nya dari rumah hingga sekolah. selalu seperti ini senyum yang merekah dari bibir nya mampu membuat semua mata menjadi tertuju padanya, tidak lain dengan Dimas.. lelaki yang selama ini menemai hari-hari Sherly, ya. Dimas adalah kekasih Sherly. sudah hampir bertahun-tahun mereka menjalani kisah cinta nya di SMA. berawal dari sebuah MOS mereka berkenalan hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Hari berganti hari, detak jam pun mulai berpindah tempat.. setiap hari selalu ada kisah manis diantara mereka berdua. tak pernah sedikitpun waktu yang dilewati mereka begitu saja, pasti selalu ada yang bermakna.. mulai dari Dimas yang selalu mengucapakan "Selamat pagi, Cinta" kepada Sherly, sampai Sherly yang rutin setiap pagi nya mengantarkan sebuah nasi goreng dengan bentuk "love" sebagai sarapan Dimas. tak pernah satu hal pun mereka lewati dengan kesedihan. hidup mereka seakan sempurna dan berwarna.

Singkat cerita.. kelulusan sudah didepan mata, Sherly dan Dimas lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.. Sherly melanjutkan kuliahnya di kedokteran. namun lain hal nya dengan Dimas, Dimas yang notabene hanya seorang anak tukang becak harus rela melalui hari-hari nya tanpa meneruskan sekolah dijenjang yang lebih tinggi lagi. semua itu tidak merubah perasaan antara mereka. tetap ada cinta di sela-sela keseibukan mereka masing-masing.. sudah lama hubungan mereka berjalan. satu samalain pun saling mengenali masing-masing sifat dan sikap nya. hampir tidak ada pengecualian untuk mereka berdua..

Hingga akhirnya..
Pada suatu hari..... tepat satu bulan sebelum ulangtahun Sherly, Dimas menyiapkan sebuah hadiah untuk ulangtahun kekasihnya itu.. Dimas membuat banyak burung-burung yang terbuat dari kertas origami. hampir ratusan burung yang sudah dibuat Dimas untuk hadiah ulangtahun Sherly. dan kebetulan pada saat yang bersamaan, Dimas juga merencakanan sebuah kejutan untuk melamar Sherly. tanpa Sherly ketahui.. ternyata semua ini sudah dirangkai indah oleh Dimas.

24 November 2012, tepat ulangtahun Sherly hari ini, Dimas sudah menyiapkan kue ulangtahun beserta lilinya dan sebuah kotak yang berisikan ratusan burung-burung kertas yang disetiap burung terdapat keinginan Dimas untuk dapat hidup bersama Sherly hingga akhir hayatnya. tak lupa sebuah cincin yang sudah disiapkan Dimas untuk meramal Sherly dihari ulangtahunnya. Dimas sangat antusias pada hari itu. sangat bersemanat untuk menyambut ulangtahun kekasih hati nya ini.. hingga akhirnya sebuah kejadian yang tidak pernah dibayangkan oleh Dimas pun terjadi..
Dimas
Happy Birthday, Sayaaaanggg!!!
(sambil memberikan kue dan lilin pada Sherly)
Sherly
(terdiam dan hanya senyum)
Waaahh.. Dim... ya ampun.. makasih bangettttt!!
(memeluk Dimas dan meniup kue ulangtahun)
keadaan saat ini sangat berkesan bagi Sherly dan Dimas. dan hingga akhirnya Dimas mengeluarkan kotak berisi burung-burung kertas dan sebuah kotak yang berisikan cincin..
Dimas
Ini buat kamu..
(memberikan kotak)
isi nya nggak seberapa kok, cuma kertas-kertas yang aku rangkai jadi burung, tapi disetiap burung itu ada harapan-harapan untuk hubungan kita lho.. smoga kamu suka ya sayang..
Sherly
(membuka kotak)
Dim... kamu selalu penuh kejutan. makasih bangett!! aku suka banget sama burung-burung ini, Lucu..
Dimas
ada hadiah satu lagi buat kamu nihh..
(berlutut dan membuka kotak cincin)
Sherly bingung.. ada kejadian aneh disini. ternyata Dimas melamar Sherly hari itu juga. namun.. namun.. Sherly tidak dapat menerima lamaran Dimas waktu itu.
Sherly
Ini maksud nya apa?...
Dimas
ini tanda keseriusan aku sama kamu, Sher.. aku mau kamu jadi pendamping aku sampai kapanpun.
Sherly
Dim.. kamu nggak ngerti.. aku.. aku gak bisa,Dim. aku gak bisa terima ini.
Dimas
Kenapaaa?.. bukannya kita udah ngerencanain ini dari lama?
Sherly
kamu nggak tau masalahnya dan kamu nggak ngerti.. aku gak bisa! orangtua aku nggak setuju kalau aku sama kamu.
Dimas
lhoo?? kenapa?
Sherly
karena kamu gak punya pekerjaan.
Hening... omongan Sherly bagai sebuah meteor yang jatuh menimpa wajah Dimas. Dimas marah besar dan mengucapkan kata-kata diluar kesadarannya..
Dimas
cuma karena itu? dasar cewek matre! keluarga matre! harusnya aku emang nggak bilang kayak gini. anggap kita gak pernah kenal! suatu saat aku akan jadi orang terpandang. lihat nanti!
Dimas pergi meninggalkan Sherly. dan Sherly hanya bisa terdiam dan menangis.


Hampir enam bulan Sherly tidak memberikan kabar untuk Dimas. Dimas seakan-akan sudah tidak mengenali dan mengetahui kabar tentang Sherly. keadaan Dimas kini berubah. ia sudah sukses.. siapa yang tak kenal Dimas? seluruh pelosok desa pun tahu siapa "Dimas"..
Sore harinya, saat Dimas mengendarai sebuah mobil, tiba-tiba ia bertemu dengan Ibu Sherly. niat buruk Dimas mulai keluar, ia ingin menabrak Ibu Sherly untuk balas dendam.. namun hati kecil nya menahan.. dan akhirnya Dimas pun malah mengikuti kemana Ibu Sherly pergi. dan ternyata Ibu Sherly mendatangi sebuah makam.. disebuah makam itu Dimas merasakan hal aneh..
Dimas
Ibu.. maaf.. Dimas lancang ngikutin Ibu sampe sini.. itu makam siapa,Bu?
Ibu Sherly
ya ampun Dimas. kamu kemana aja? ini... ini.. ini makam Sherly..
Dimas
(Teriam dan termenung)
Bohong...........
Ibu Sherly
Dimas.. Ibu gak bohong. semenjak kamu pergi ninggalin Sherly hari itu penyakit Sherly semakin parah, kanker tulang belakangnya yang selama ini disembunyikan dari orang-orang dan terutama kamu semakin memburuk. sudah hampir dua bulan ini Sherly meninggal dunia. ini Sherly sempet titip surat ke kamu
(memberikan surat pada Dimas)
Dimas kaget mendengar itu, ia tetap tidak percaya bila makam itu adalah makam Sherly. hingga akhirnya ia membaca surat dari Sherly..

Dear Dimas..
Dimas.. mungkin saat kamu baca surat ini nanti aku udah nggak bisa ada dideket kamu lagi. maafin aku, Dimas.. bukan karena orang tua aku gak setuju dengan hubungan kita,tapi karena aku sakit, Dim.. aku nggak mau kalau nanti akhirnya hanya jadi beban untuk kamu. jangan pernah lupai aku ya.. aku selalu ada dan aku selalu hidup dihati kamu.
dari aku yang mencintaimu, Sherly. 


THE END

Kamis, 21 Februari 2013

Ketika Mimpi Mengutarakan Hati.


Written by
Syahrima


Pagi yang cerah, keadaan sekeliling sepi.. Hanya kicauan
burung yang terdengar. Seakan merasakan kesepian dan
kesendirian. Bunga-bunga disekitar taman yang harum
merekah dan secangkir kopi hangat kemudian terdengar suara
hembusan angin. Tama mengawali harinya dengan bergegas pergi kesebuah kafe
untuk mengerjakan tugas kuliah nya. dengan menggunakan motor
lengkap dengan helm,jaket,dan masker. Di cafe ini tempat biasa Tama menghabiskan waktu luangnya.
walaupun hanya ditemani dengan secangkir kopi hangat dan
tumpukan tugas yah harus dikerjakannya. Tama melihat seorang
gadis berkerudung disisi cafe. dan ternyata gadis ini sudah
sering dilihat oleh Tama setiap ia mendatangi cafe ini.
Keesokan harinya Tama mendatangi cafe yang sama. Dengan
tujuan yang sama untuk mengerjakan tugas namun hari ini ia
juga datang ke cafe untuk menemui sahabatnya yang bernama
Faiz.
FAIZ
Woi Tam! Apa kabar men? Masih idup
juga rupanya.. Hahahahaa.. Masih
gini-gini aje lo. Gak bosen apa
sendirian terus?
TAMA
Kabar baik sob.. Apaan sih lo??! gw
masih betah menyendiri coyyyy!!
(dengan nada ketus)
FAIZ
Wetsss.. Santai bro! mau gw kenalin
gak sama cewek? Cakep nih.. lumayan
lah daripada lumanyun..
TAMA
Ahh.. Paling juga orangnya biasa
aje.. Tapi siapa sih emangnya?
gakpapa deh biar gw gak kesepian
gitu ye..

Dengan rasa penasaran Tama melihat dengan pandangan serius ke
arah Faiz, tiba-tiba seorang gadis datang dari arah
berlawanan.
RISYA
Hai.. Tama ya?
(sambil tersenyum dan
menjabatkan tangan pada
Tama)
TAMA
Hmm..emm.. Iya.. Iya gw.. Gw Tama.
ohh.. Jadi elo yang mau dikenalin
si Faiz ke gw?
(sambil menepuk bahu Faiz)

Tama tersenyum dengan wajah yang memerah.. ternyata gadis
yang dikenalkan Faiz adalah gadis yang selama ini
diperhatikan oleh Tama setiap ada di cafe. Tama,Faiz dan
Risya banyak berbicara dan bercanda juga bertukar fikiran
hingga banyak lelucon yang muncul dipembicaraan mereka.
Hingga akhirnya Tama menanyakan alamat rumah Risya.
TAMA 
Rumah lo dimana, Sya? Kali aja
nanti kalau gw iseng gw bisa main
gitu, syukur-syukur kalau dapet
makan geratis.. Heehee..
(sambil mengambil alat
tulis untuk mencatat
alamat Risya)

Tama mendatangai rumah Risya untuk mengajak Risya makan malam
di cafe yang biasa mereka datangi hingga akhirnya mereka
pergi ke cafe tersebut untuk makan malam.
Tama memberanikan diri untuk menyatakan isi hatinya pada
Risya, dan Risya menerima Tama sebagai kekasih hatinya.
TAMA
(sambil menggerak-gerakan
kakinya)
Hm.. Sya.. Kayaknya ada yang mau gw
omongin nih.. boleh gak nih gw
omongin sakarang?..
RISYA
Omongin apaaaa?... Kayaknya serius
banget.. Hee..hehehe
TAMA
Emang serius banget ini.. ehhh tapi
belum tepat ah waktunya.
RISYA
Yee.. Serius ah, mau ngomong apa
sih lo? Jangan bikin kepo ahhh..
(sambil memukul lengan
Tama)
TAMA
Kepoooo banget sih.. Hmm.. To the
point aja deh. Gw... gw.. Gw suka
sama lo, Sya. lo mau jadi pacar gw
gak?
(Tama menatap Risya)
Keadaan seketika hening, mereka saling berpandangan dalam
waktu yang cukup lama, dan akhirnya Risya menerima cinta
Tama.
RISYA
Hm..gimana ya.. Iya, gw mau.. Gw
juga ngerasain apa yg lo
rasain,Tam.. gw mau jadi pacar lo..
Dengan wajah memerah, Tama tersenyum bahagia. Dan sejak malam
itulah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Risya sedang membuka salah satu situs jejaring sosial, hingga
akhirnya ada seorang lelaki yang mengajak Risya untuk
berkenalan dan akhirnya Risya kenal lalu dekat dengan seorang
lelaki yang bernama Arief.
Risya dengan laptopnya yang sedang chatting
dengan lelaki yang bernama Arief.
Risya bertemu dengan Tama, mereka saling melepas rindu..
namun ada yang berbeda dari gerak-gerik Risya. Hingga
akhirnya Risya tiba-tiba berpamitan pergi pada Tama dengan
sikap aneh dan terkesan terburu-buru
RISYA
Tamaaa... kamu udah dari tadi
sampenya?
(sambil mengelus kepala
Tama)
TAMA
Enggak kok.. Kamu dari mana aja kok
lama?
RISYA
Lama?nggak Kok, perasaan cepet..
Mungkin karena kamu sampe duluan
jadi ngerasa lama. Maafin aku yaa..
TAMA
Iyee.. Gakpapa. Semalem kamu
kemana? Aku telepon kok gak
diangkat malah kamu matiin gitu
aja? sengaja atau gimana tuh?
RISYA
Nggak kemana-mana kok... ahh.. Kamu
tuh mikir nya jelek mulu sih ke
aku. aku tuh lagi mumetttt banget
sama tugas
(mimik muka kebingungan)
Mereka saling berbincang hingga pada akhirnya Risya tiba-tiba
berpamitan untuk pergi. Tama bingung dengan tingkah laku
Risya. Dan Tama hanya terdiam melihat Risya pergi dengan
perlahan.
RISYA 
Tamm.. maaf ya aku gak bisa lamalama
nihh..
TAMA
Pergi kemana lagi siiiihhh????..
baru sebentar udah pergi lagi. Aneh
banget kamu nggak biasanya kayak
gini..
RISYA
Aku mau pergi nihhh buru-buru
banget. Nanti aku kabarin kamu
yaaaaa..
Dan Risya pun pergi meninggalkan Tama dari cafe tersebut.
Risya menghubungi Tama untuk mengajak bertemu disebuah taman
siang ini.. mereka membuat janji untuk saling bertemu dan
Risya ingin meminta maaf kepada Tama
RISYA
Halo.. Lagi ngapain kamuuu?.. aku
ganggu nggak nihh?
TAMA
Haii.. gak kokk. Lagi ngerjain
tugas aja nih, kenapa, Sya?
(dengan nada datar yang
terkesan sedang kesal)
RISYA
Gak kenapa-kenapa sih.. Kita
ketemuan yuk, kangen nihh..
TAMA
Ahh nanti ditinggal lagi kayak
kemarin. Gak mau ahh
(dengan nada bercanda)
RISYA
Ihh kamu.. Nggak deh nggak.
Seriusan nih kita ketemuan, aku
tunggu jam 2 di taman biasa yaaa..
Keadaan jalan raya dengan lalu lalang kendaraan.. terlihat
disebuah taman Tama sedang terdiam menunggu Risya.
Hampir sejam Tama menunggu Risya ditaman yang sudah
dijanjikan, namun Risya tak kunjung datang... Tama sudah
meyiapkan sebuah mawar merah untuk diberikan pada Risya.
Hampir 3 jam Tama menunggu Risya di taman hingga hujan turun
membasahai seluruh tubuhnya namun Risya tetap tidak datang,
hingga akhirnya Tama memutuskan untuk meninggalkan Taman itu.
TAMA 
Harusnya gw nggak dateng kesini..
Harusnya gw nggak usah turutin apa
mau dia, kalau akhirnya kayak
gini.. Ternyata emang semuanya udah
nggak sama kayak dulu lagi...
Dan akhirnya Tama pun pergi meninggalkan Taman itu, bunga
mawar yang sudah disiapkannya ditinggalkan bergitu saja. Tama
pergi dengan perasaan kecewa.
Risya mencoba menghubungi Tama namun tak ada jawaban. Setelah
3 kali menghubungi barulah diterima oleh Tama. Dan Risya
meminta maaf kepada Tama.
RISYA
Halo.. Tam.. Tama..
TAMA
Iya. Kenapa?
RISYA
Aku..aku mau minta maaf. aku tau
kamu marah ya sama aku..
TAMA
Kemana aja kamu, Sya? Udah kesekian
kalinya kayak gini.. Kamu yang
ngajak ketemuan tapi kamu yang ngga
dateng.
RISYA
Iyaa.. Maafin aku Tam. Aku tau aku
salah..
TAMA
Aku tunggu kamu dari siang sampe
sore. Kamu tetep aja nggak dateng.
Kemana sih??
RISYA
Aku pergi,Tam.. Ada keperluan
mendadakan yang nggak bisa aku
tinggalin gitu ajaaa.. Aku mau
besok kita ketemu. Sekarang aku
janji nggak akan telat atau gak
dateng lagi. Plissss
(dengan nada yang memelas
untuk memohon agar Tama
mau menemui Risya)
TAMA
Iya.iya.. tapi aku nggak bisa kalau
sekarang-sekarang ini. Lagi banyak
tugas.
RISYA
Yaudah.. Kabarin aku aja kamu
bisanya kapan yahh.
(sambil mengakhiri
pembicaraannya di
telepon)
Arief tiba-tiba menelepon Risya untuk mengajak pergi esok
hari, padahal esok hari adalah waktu Risya untuk bertemu
dengan Tama. Hingga akhirnya Risya memutuskan untuk menemui
Arief setelah urusan nya dengan Tama selesai.
ARIEF
Sayang.. Kamu besok ada acara gak?
Kita pergi yuk.. Udah lama nih
nggak jalan lagi
RISYA
(dengan nada panik dan
terbata-bata)
Wahh? Besok? Mau kemanaaa?.. Nggak
sih aku gak tau ada acara atau
nggak. Liat besok deh ya sayang..
Keesokan harinya Risya datang ke sebuah cafe tempat ia biasa menghabiskan
waktu luangnya bersama Tama. Di tempat yang berbeda Tama yang
dalam perjalanan tiba-tiba mengalami kecelakaan, motor yang
dikendarai oleh Tama tertabrak oleh sebuah mobil yang
ternyata di kendarai oleh Arief. Risya menunggu cukup lama di
cafe tersebut hingga ia cemas.. Berjam-jam menunggu Tama tak
kunjung datang akhirnya Risya pergi dengan Arief.
RISYA (O.S.)
Tama kemana nih.. Aduh nggak
biasanya dia telat sampe di tekepon
nggak aktif gini.. Baru kali ini
aku cemas kayak gini yampun..
Dijalan Tama terlihat murung, tidak seperti biasanya.. Ia
mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ia juga melamun
saat mengendarai motor.
TAMA (V.O.)
Tuhan.. Langkah ini terasa ringkih
untuk melangkah. Setiap langkah
kaki ini terasa berat semenjak ia
merubah suasana hati yang berwarna
menjadi redup.
Tuhan.. Cinta yang begitu besar
pada wanita itu tidak melebihi
cintaku pada-Mu. Hingga saatnya
nanti hanya cinta yang dapat
mengutarakan kegundahan hati ini.
Karena sudah telat untuk bertemu dengan Risya, Tama akhirnya
mengendarai motor sangat kencang dan ternyata dari arah
berlawanan ia ditabrak oleh sebuah mobil.
Arief datang untuk menjemput Risya. Namun Risya mengira Arief
adalah Tama
ARIEF
Haii.. Sayang.. yuk.. Kita pergi
sekarang.
RISYA
Tamaaaa.... Lama banget yampun
datengnya kamu kemana aja..
ARIEF
Tama? Siapa itu?
RISYA
(keadaan panik)
Ituu.. Temen aku kokk..
Tanpa basa-basi Arief langsung pergi meninggalkan Risya
dengan keadaan marah, Risya yang bingung langsung mengejar
Arief hingga akhirnya mereka pergi dengan keadaan saling
bertengkar di dalam mobil.
Keadaan Arief yang benar-benar sedang marah pada Risya
membuat suasana semakin keruh. Mereka berdua saling mengadu
tuduhan satu sama lain.
ARIEF
Udah deh bilang aja kalau selama
ini kamu emang sembunyiin sesuatu
dari aku
RISYA
Bukan sembunyiin sesuatu, tapi
emang kamu nggak tau aja aku udah
deket sama Tama dari sebelum aku
kenal kamu.
(Flashback) sebuah makam yang usang dengan keadaan
sekitar yang teduh.
Foto-foto Tama dengan Risya lengkap dengan boneka dan hadiah
yang pernah Tama berikan pada Risya
(Flashback)
Tama menunggu Risya berjam-jam disebuah taman dengan membawa
sebuah bunga mawar sampai hujan turun dengan deras namun
Risya tak kunjung datang dan ternyata Risya sedang pergi
dengan Arief..
Risya tidak mengangkat telepon dari Tama karena sedang fokus
chatting didunia maya dengan Arief, lelaki yang baru
dikenalnya.
Tama yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi
lalu ditabrak oleh mobil dari arah berlawanan. Terlihat plat
nomer mobil tersebut yang menabrak Tama. Dan orang yang
menabrak Tama melarikan diri.
Mereka saling tuding hingga akhirnya percekcokan itu terjadi
didalam mobil. Dalam kondisii emosi Arief mengendarai mobil
dengan ketidaksadaran. Dan akhirnya dari arah berlawanan
mereka menabrak pembatas jalan karena kecerobohan Arief saat
mengendarai mobil.
hingga akhirnya Risya danArief pun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Arief meninggal dan Risya lumpuh total.. beberapa hari setelahnya Risya mengetahui bahwa Tama juga mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan Tama meninggal dunia. Risya sangat terpukul dan merasa bersalah atas kematian Tama..

Senin, 18 Februari 2013

Loker.


Pagi sendu, mendung.. bagai awan tak ingin menunjukan dirinya pada matahari, memperlambat langkah Rafsya, seorang mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta, gadis yang sedang merantau dan jauh dari keluarganya ini sangat berambisi menjadi seorang penulis. Walaupun kedua orang tua nya tidak pernah mendukung mimpi gadis ini, namun itu semua tidak pernah menghentikan langkah kakinya untuk mencapai semua keinginannya. Pagi ini masih seperti biasa.. hanya secangkir kopi hangat dan suara burung yang menemani hari-hari Rafsya. Gadis ini dikenal sebagai gadis mandiri, saking mandiri nya.. ia kadang dijuluki “Gadis Anti Sosial”, tidak pernah aktif dalam organisasi apapun dan seorang gadis yang susah berbaur dengan lingkungan sekitarnya, seorang gadis yang tidak bisa cepat memposisikan dirinya dalam lingkungannya sebagai mahasiswi. Namun Rafsya dikenal sebagai mahasiswi terbaik tahun ini.. pantas saja Rafsya dikenal sebagai mahasiswa yang pandai, IPK ia tahun ini menjadi sorotan para mahasiswa lainnya, mendapatkan 3.99 adalah salah satu mimpi para mahasiswa lainnya dan Rafsa lah yang berhasil mendapatkan itu..
“Hei.. Kamu Rafsya ya?”.. seketika terdengar alunan suara dari lorong kelas sebelah, Rafsya yang dikenal gadis jutek itu tidak menanggapi suara tersebut, ia tetap fokus dengan novelnya dan setumpuk buku yang digenggamnya.. “Hei.. Halo.. Kamu Rafsya, kan?” lagi-lagi suara itu terdengar, bahkan sekarang suara itu lebih jelas ditelinga Rafysa. “Hmm.. Hai.. iya aku Rafsya, maaf kamu siapa ya?” Ucap Rafsya dengan suara sinis sambil kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya. “Aku.. Aku Bara. Salam kenal ya..”. ternyata suara yang menyapa Rafsya berasal dasri suara Bara, siapa yang tidak kenal Bara.. asisten dosen yang satu ini dikenal sebagai mahasiswa yang berkarisma, paras wajahnya yang manis selalu membuat para mahasiswi lainnya tergila-gilan padanya.. “oh.. iya sama-sama”. Kata Rafsya tanpa menoleh ke arah Bara.. “selamat juga deh IPK kamu paling tinggi tahun ini.” Kata Bara sambil mengulurkan tangannya ke tangan Rafsya. Tanpa basa-basi Rafsya mendekatkan kedua tangannya tanpa menjabat tangan Bara “Terimakasih banyak ya..” dengan tergesa-gesa Rafsya pergi meninggalkan Bara. Rafsya juga dikenal sebagai mahasiswi yang sangat taat dengan agama. Oleh karena itu Rafsya tidak menoleh dan melihat kehadapan Bara dan Rafsya juga tidak menjabat tangan Bara.
Siang hari nya di kantin, Bara yang diam-diam sering memperhatikan Rafsya mencoba menghampiri Rafsya yang sedang asyik dengan semangkuk bakso yang dimakannya.. sadar sedang diperhatikan oleh seseorang akhirnya Rafsya bergegas perfgi dari kantin. Bara merasa sangat bingung dengan tingkah laku Rafsya, satu hal yang Bara tidak tahu dari Rafsya adalah Rafsya tidak pernah mau dekat dengan lelaki selain dengan keluarganya. Bara tetap mengikuti jejak langkah Rafsya yang sedang menyusuri lorong demi lorong koridor kampus.. kecantikan hati Rafsya lah yang telah berhasil memikat hati Bara. Jangan bertanya tentang paras cantiknya, kesantunan akhlaknya, dan ibadahnya. Namun dengan kecantikan hati Rafsya lah Bara menjadi jatuh hati padanya. Satu demi satu semua kelakuan Rafsya selalu diperhatikan oleh Bara, hampir setiap pagi Bara meletakan setangkai mawar putih di loker tempat Rafsya menaruh barang-barangnya. Tanpa di kertahui Rafsya tentunya..
“Terus kejar mimpimu, sang penulis berhati malaikat. Dari aku yang mengagumimu”.. potongan kata yang ditemukan dalam lilitan setangkai mawar putih pagi ini yang dibaca oleh Rafysa. Rafsya memang sangat menyukai mawar putih, karena mawar putih dapat melambangkan kesucian, banyak tanda tanya yang terlontar dalam pikiran Rafsya.. “bunga dari siapa ya? Kenapa setiap pagi selalu ada mawar putih dengan kata-kata puitis seperti ini?”. Dari kejauhan Bara tersenyum manis melihat Rafsya yang sedang menghirup harum bunga mawar putih darinya. Bara selalu menyempatkan diri setiap paginya untuk membeli mawar putih dan diberikannya pada Rafsya. Namun Rafsya tidak pernah mengetahui tentang itu dan Bara pun tidak mau Rafsa tahu bahwa dirinyalah yang memberikan mawar putih setiap pagi di loker Rafsya.
Hari berganti hari, detak jam pun selalu berputar seiring berjalannya waktu, Rafsya tetap fokus dengan dunia menulisnya dan Bara juga tetap fokus dengan serentetan praktikum kedokterannya. Maklum saja, memasuki semester akhir kedua mahasiswa ini sibuk dengan skripsi yang mereka kerjakan. Namun itu semua tidak menghentikan kebiasaan Bara yang selalu meletakan mawar putih di loker Rafsya.. “siapapun yang memberikan ini, aku mau bilang terimakasih.. pasti orang yang memberikan ini hatinya secu sesuci mawar putih ini..” kata Rafsya sambil mengcium dan menghirup aroma mawar putih itu..
Hari berikutnya.. sengaja Rafsya melangkahkan kakinya lebih pagi dari biasanya, sengaja ia ingin mencari tahu tentang siapakah orang yang meletakan mawar putih di lokernya. Pukul 06.00 Rafsya sudah berada di kampus, tidak seperti biasanya.. Rafsya yang biasanya datang ke kampus saat mata kuliah berlangsung kini berada pagi-pagi buta hanya untuk menyelidiki seorang pengagum rahasianya yang selalu memberikan mawar putih, di waktu yang bersamaan Bara hari itu tidak meletakan mawar putih di loker tempat biasanya ia memberikan aroma indah mawar putih untuk Rafsya, gadis pujaannya.. Bara hari itu tidak datang ke kampus dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan skripsi akhirnya...
Hampir sejam Rafsya duduk di pojok bangku taman dengan memasang wajah harap-harap cemas. Matanya mengelilingi seluk beluk lorong-lorong kampus dengan berharapan dapat mengetahui siapa orang yang selalu meletakan mawar putih beserta puisi-puisi indah di loker nya.. waktu terus berjalan.. tanpa dirasa sudah dua jam ia duduk ditempat yang sama, dengan pandangan yang sama, dan posisi duduk yang sesekali berpindah tempat, namun sayang.. orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, ia merasa sedikit kecewa karena tidak dapat mencari informasi tentang pengagum rahasianya.. dan ia pun memutuskan untuk beranjak dari bangku taman itu dengan seribu tanda tanya didalam hatinya.. “Ergggghhh.. kenapa gak keliatan sih orang itu? Tambah penasaran aja nihhhh!!!!!!”........
Seminggu berlalu, tanpa ada mawar putih dan sepucuk puisi di lokernya. Hati Rafsya makin bertanya-tanya dan ribuan tanda tanya mulai menghampiri malam-malam gadis ini. Entah dimana Bara saat itu, saat dimana Rafsya benar-benar menyimpan banyak tanya tentang si pengagum rahasianya. Dalam doa selalu ada potongan kalimat yang rutin diucapkan disela-sela doa nya.. “Ya Allah.. siapapun orang itu, pertemukan ku dengan dia. Andai aku bisa mengetahui siapa orang itu..” Rafsya memang gadis yang tidak pernah akrab dengan dunia cinta. Hari-hari nya dihabiskan dengan bertumpuk-tumpuk buku dan berlembar-lembar kertas mata kuliahnya. Dan memang Rafsya mempunyai tekad. “Sebelum toga sudah aku kenakan, aku tidak akan mau tahu apa itu cinta”..
Malam hari nya, saat Rafsya sedang teliti menyelesaikan tugas mata kuliah nya tiba-tiba ada suara yang memanggil ia dari arah depan rumahnya.. “Rafsya.. Rafsyaaaa...” seketika suara itu menghentikan goresan pena yang sedang dipegang oleh Rafsya, namun Rafsya tidak memperdulikan nya. dan dengan serius ia tetap pada pekerjaannya yang bertumpuk itu.. sampai akhirnya, Ibu Rafsya mengetuk pintu kamar Rafsya. “Sya.. ada tamu tuh. Nyariin kamu tuh dia”. Dengan langkah yang tetap ditemani oleh buku Rafsya pun bergegas membuka pintu kamar, “siapa,Bu? Malam-malam gini bertamu gak sopan banget sih..”. dengan sinis omongan itu terlontar dari bibir tipis Rafsya. “Hei.. apa kabar?..” suara itu.. suara yang selalu menggangu di telinga Rafsya, Bara.. ternyata Bara yang malam-malam berkunjung ke rumah Rafsya. “ngapain kamu kesini? Gak pernah di ajarin tata krama bertamu ya? Ini sudah malam..” ketus Rafsya. Mendengar itu Bara langsung merasakan miris. Entah apa yang dipikirkan oleh Rafsya, niat baik Bara ternyata disambut dengan kesinisan..
“Aduh.. omongan aku salah gak ya tadi itu, jadi ngerasa gak enak sama dia. Erghh.. biarin deh. Abisnya dia nyebelin..” celetuk Rafsya sambil menutup pintu kamarnya dan mematikan lampu disamping tempat tidurnya. Ditempat yang berlainan Bara pulang dengan membawa sebuah penyesalan. “Ampun deh.. dari sekian banyak cewek yang pernah gw deketin baru kali ini ada cewek yang galaknya ngelebihin macan. Gimana mau deket.. denger suara gw aja dia udah males”.. ucap Bara sambil mengacak-acak rambut.
Waktu terus berlalu, ribuan hari dilewati Bara dan Risya dengan kesendirian. Risya tetap tidak mengetahui siapa penggemar rahasia nya yang selalu rutin memberikan ribuan kejutan untuknya. Hingga akhirnya.. sesuatu kejadian membuat rahasia itu terbongkar. Pagi hari saat Bara menaruh setangkai mawah putih dan puisi di loker Risya. Risya datang....... sekejap keadaan menjadi hening. “Heh!!! Ternyata... ternyata lo yang setiap hari ngasih gw mawar putih? Ternyata tulisan tangan lo yang bikin gw penasaran selama ini???” tuduh Risya. Dengan tampang bingung.. Bara pun menjawab.. “ehmm.. heeehehe... iya.. iya gw yang naruh itu semua, gw yang kasih lo bunga mawar putih.. iya.. iya tulisan tangan gw yang ada di lembaran-lembara kertas puisi itu”............................................ Risya bingung.. keadaan canggung. Dan mereka saling bertatapan....

Kamis, 07 Februari 2013

Semu.

Entah apa lagi yang harus aku tulis.. entah apa lagi yang harus aku ceritakan.. dan entah.. entah.. entah apa lagi yang dapat mendeskripsikan tentang dia.. God.. i like him. aku menyukai senyumnya.. matanya.. hidungnya.. tingkahnya.. dan aku menyukai hatinya.. Tuhan.. apa ini yang rasanya mengagumi? apa ini yang dinamakan menyukai? atau apakah ini yang namanya mencintai? walau aku tau.. aku tau dia bukan untukku, dia bukan dan tidak memilihku. aku tau dan aku sadar itu. aku tau aku tak berarti apapun dimata dia, aku hanya seorang bayangan yang mengikutin kemanapun dia pergi, tanpa aku bisa menyentuhnya dan berbicara pada nya..
Andai saja.. andai aku bisa membaca isi hatinya, mendengar jerit suara hatinya.. aku hanya ingin mengetahui siapa gadis yang berutung yang selalu ada di hatinya?.. andai aku bisa membaca isi fikirannya tanpa harus mencari tau semua tentang dia disetiap orang banyak.. ingin sekali aku mengetahui siapa gadis yang selama ini terkunci didalam fikirannya..
Tuhan.. bila dia untukku.. dekatkan kepadaku, Ya Tuhan.. dan andai dia bukan orang yang baik untukku.. jauhkan aku dengannya, buang semua rasa ini yang telah ku simpan selama ini untuknya. lenyapkan dia dari fikiranku, Ya Tuhan.. hapus dia dari setiap mimpi indah dalam malamku saat ku terjaga. andai.. kelak suatu saat nanti dia bukan untukku. ikhlaskan hatiku,Ya Tuhan.. karena aku tau, ada ataupun tidak adanya aku disisinya, aku hanya akan menjadi seorang bayang-bayang semu untuknya. sekarang.. esok.. lusa.. bahkan selamanya..

Sorot Pelangi

Pagi yang seperti biasa, murid-murid melangkahkan kaki nya dengan senyuman lebar dipipi nya. Termasuk Rio, kapten basket sekolah yang banyak digandrungi oleh para wanita ini seperti biasa mengawali rutinitas nya bersama Ara, sahabat karib nya yang di kenal sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Rio dan Ara selalu melakukan hal bersama-sama, layaknya seorang kakak dengan adik nya mereka pun selalu berusaha untuk membuat sebuah semangat setiap hari nya dengan bersama-sama.
Rio yang dikenal sebagai kapten basket sekolah ini adalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu menebarkan senyuman untuk semua orang, seperti pelangi.. sinar mata Rio mampu memancarkan aura positive bagi orang-orang yang melihat nya. Seorang siswa berprestasi ini mampu memikat semua wanita yang ada di sekolah. Tapi sayang, sejak dulu Rio tidak pernah mengerti apa itu “mencintai dan dicintai”. Sangat bertolak belakang dengan Ara, hampir semua wanita pernah menjadi tambatan hatinya. Tidak jauh beda dengan Rio.. paras wajah Ara juga mampu membuat wanita jatuh hati pada nya.
Hari-hari mereka penuh canda dan tawa, selalu ada lelucon dalam persahabatan mereka. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan Shilla.. gadis cantik dan baik hati ini datang di kehidupan mereka. Seakan mengubah hidup Rio, semenjak mengenal Shilla diam-diam Rio menyimpan rasa pada Shilla. Hanya Ara yang tahu semua cerita Rio tentang Shilla.
“Kapan nih lo mulai deketin Shilla? Hati-hati, sob! Keburu di gebet orang”.. celetuk Ara saat bel istirahat berbunyi. Jawab Rio dengan santai.. “ah! Lo kayak baru kenal gue sehari aja.. minder gue bos deketin cewek cantik kayak Shilla. lo tau sendiri gimana penyakit gue sekarang”. perdebatan mulai panas saat mereka membicarakan wanita ini, satu-satu nya wanita yang bisa membuat jantung Rio seakan berhenti berdetak saat dua mata mereka saling bertatapan.. “kapan lagi?!!! Ayolah tunjukin dan kejar cinta lo itu. Gue yakin lo bisa!”.
Waktu terus berputar, kalimat Ara selalu menjadi hantu dalam ingatan Rio..sebenarnya bukan karena alasan itu yang membuat Rio merasa tidak pantas untuk Shilla. faktor keluarga yang menjadi salah satu alasan kuat Rio, kurang lebih sudah dua tahun Ibu Rio menjadi single parent. Semenjak itu Rio berjanji hanya ingin membahagiakan wanita tercantik nya itu, yang menurutnyaadalah Ibu nya.
Alasan lain yang membuat Rio takut adalah Glioma, katagori besar kanker tumor premier yang berasal dari sel-sel glia. Jenis kanker yang dimulai dari otak atau tulang belakang. Rio adalah salah satu penderita kanker tulang belakang yang mungkin mempunyai presentase untuk dapat bertahan hidup hanyalah 50%. Walau awalnya merasa bahwa kanker tersebut adalah sebuah tamparan hebat yang membuat hidupnya sama sekali tidak memiliki arti lagi, Rio secara perlahan memulai mencoba untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan ketegaran dan besenang-senang dengan sahabatnya, Ara. Juga wanita yang di cintainya Shilla.
Ara selalu memotivasi dan meyakinkan Rio bahwa ia layak untuk mendapatkan cinta Shilla. singkat cerita cahaya kehidupan Rio mulai hadir kembali, Shilla yang selama ini didambakan nya sudah menjadi kekasih nya. berkat Ara yang selalu meyakinkannya. “Tuh.. gue bilang juga apa! Lo tuh selalu deh jangan suka putus asa sebelum mencoba. Terbukti kan sekarang Shilla bisa lo dapetin!”. Ujar Ara sambil merangkul pundak sahabatnya itu. “Sekarang gue percaya kalau selama berusaha gue pasti bisa dapetin apa yang gue mau. Makasih banget nih,Sob! Gue coba buat nikmatin hidup gue ini.” Tegas Rio dengan penuh semangat.
Seminggu kemudian Rio datang menemui dokter yang rutin ditemui nya setiap minggu untuk mengetahui bagaimana perkembangan Glioma di tubuh Rio, seakan tersambar petir saat Rio mendengar diagnosa tentang penyakitnya yang diutarakan oleh dokter.. “sel kanker di tulang belakang kamu makin menebar, harapan hidup penderita glioma mungkin hanya 46,33 bulan dengan rentang waktu 38-55 bulan” ucap dokter.. semua hening, waktu terasa berhenti saat vonis itu di jatuhkan pada Rio. Tapi Rio tidak berhenti disitu saja. Ia lebih menikmati hidup nya mulai hari itu dengan Ara sahabat karib nya dan Shilla wanita yang di cintainya.
Kehadiran kanker dalam hidup Rio telah membuat hubungan antara dirinya dengan kekasihnya, Shilla dan Ibumya menjadi begitu terguncang. Di sisi lain penyakit kanker tersebut kemudian membawa Rio untuk mengenal beberapa karakter baru dalam kehidupannya yang mampu membuatnya lebih merasa bahagia atas kehidupan yang telah dijalaninya selama ini.
“Promnight tinggal nunggu hari nih, kita jadi dateng bertiga Ara,kan?” tanya Shilla pada Rio. “jadi dong.. kita bertiga nanti bareng-bareng ya kesana.” Ujar Rio dengan semangatnya.
Malam itu pun datang, semua anak terlihat bahagia saat promnight. Malam ini bisa di sebut sebagai malam perpisahan karena seminggu lagi mereka akan mengadakan hari perpisahan dan kelulusan. Rio lulus dengan nilai yang memuaskan, peringkat pertama dapat diraih nya dalam Ujian Nasional tahun ini. Begitupun dengan Ara.. walaupun tidak sama dengan peringkat Rio, namun Ara mendapatkan universitas yang ia idamkan sejak dulu. Tidak ketinggalan denga Shilla, wanita yang di cintai Rio ini benar-benar lulus dengan hasil memuaskan juga di terima di salah satu universitas kedokteran.
“Hai semuanya..... gue mau ngomong sesuatu nih..”. tiba-tiba terdengar suara Rio yang berbicara di tengah kerumunan teman-temannya.. “gue itu sebenernya mengidap Glioma,lhoooo.. kanker tulang belakang dan udah akut banget.. hahahahaha” Rio mengutarakan kaliamat itu dengan nada lelucon dan tertawanya yang cukup keras. Dari sisi lain ada Ara yang menarik Rio dan berkata, “hahahaha lo semua kayak gak tau Rio aja, dia kan biasanya suka bercanda.”
...... Semua hening, antara percaya atau tidak namun semua teman-teman Rio sekejap merasakan khawatir, tidak lain adalah Shilla.. tersentak menangis saat mendengar kalimat Rio tadi. “Gila lo,Yo! Ngomong apasih lo barusan? Mau buat perhatian baru di sekolah?” Tanya Ara dengan sinis. Dan dengan lantang nya Rio menjawab, “gue Cuma bercanda kali, dan seenggak nya biar mereka nanti gak tanda tanya waktu ngeliat gue udah meninggal”. “heh ngomong apa sih lo?!!!” Tegas Ara.
Hari yang di tunggu-tunggu datang. Kelulusan itu sudah didepan mata. Semua siswa antusias dengan hari ini, entah apa yang istimewa hari ini.. tapi tetap saja bagi Rio hari ini masih seperti hari biasanya, tanpa ada yang istimewa kecuali hadir nya Shilla yang ada di sampingnya. Hari yang aneh.. tidak biasa-biasanya Rio memeluk Shilla dengan erat, “Shilla.. kamu harus jadi dokter. Kelak suatu saat nanti mungkin Cuma kamu satu-satu na dokter yang bisa sembuhin penyakit aku”. Kata-kata Rio yang membuat Shilla bertanda tanya.
Mala petaka itu datang, saat semua siswa bahagia mendapatkan kelulusan. Namun tidak untuk Rio.......... “Yo......bangun!!! Rio kenapaa?!!!!”. Suara teriakan itu datang dari belakang panggung. Ternyata Rio sudah terbaring di lantai, dengan darah yang menyelimuti hidung hingga setengah wajah Rio. Semua panik.. haru biru pun terasa di hari perpisahan ini. Semua darah penuh di setengah wajah Rio, bahkan mata itu.. mata yang mempunyai sorot seperti pelangi seakan redup, habis, dan mati tenggelam merah nya darah itu. Hari perpisahan yang mungkin tidak hanya untuk para siswa. Namun juga untuk Rio......
Syahrima. Diberdayakan oleh Blogger.
 

My Online Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea